Pemenang atau Pecundang?

29 Desember 2009
Sering dalam hidup ini, kita mengalami suatu peristiwa yang sungguh tidak diharapkan. Tapi apa mau dikata, peristiwa yang sungguh tidak diharapkan itu, terkadang malah mampir dan singgah di rumah kita, mencakar dan melukai dengan jari jemari yang runcing, tajam dan menyakitkan. Pada akhirnya, kita hanya mampu berteriak ,"Why, God?"

Banyak orang terluka, malah menjauh dari obat yang bisa menyembuhkan lukanya. Banyak orang tersesat, malah lari dari lampu penerang yang bisa menunjukkan jalannya. Banyak orang hilang harap, malah menghindar dari berbagai asa yang mendekat di hidupnya. Hingga akhirnya, yang tertinggal hanyalah rasa benci, frustasi, hilang iman dan harapan, bahkan hilang kendali atas diri sendiri.

Seorang teman begitu terluka ketika anak sulung kesayangannya tiba-tiba dipanggil Tuhan di usia yang masih sangat muda. Mereka berdua, suami dan istri, sama2 terluka. Mereka berdua sama2 merasa bahwa Tuhan sungguh tidak adil. Sang ayah menyalahkan si ibu mengapa nggak becus mengurus anak saat si ibu ada di rumah. Sang Ibu menyalahkan si ayah yang lebih mementingkan kerja di saat anak jatuh sakit dan harus segera mendapatkan perawatan dokter. Kedua belah pihak saling menyalahkan. Saling menghakimi. Saling menyimpan luka tanpa ada yang mau jadi seorang "pemenang" dengan saling memaafkan.

Yang jadi pertanyaan adalah, sampai kapan luka itu akan menganga? Apakah harus menunggu sampai bernanah baru mencari obatnya? Sampai kapan mesti menyimpan luka? Sehari? Dua hari? Tiga hari? Atau sampai selama-lamanya? Lalu di manakah mesti menggantungkan harap jika di setiap sudut hati hanya ada rasa marah, benci, frustasi dan putus asa? Lalu di manakah mesti menyandarkan duka jika tidak ada salah satu pihak yang bisa menjadi pelipur lara?

Andai saja bisa memaafkan diri sendiri. Andai saja bisa berdamai dengan diri sendiri. Bisa jadi akan ada pihak yang kuat dan akan bertahan sebagai pemenang. Ketika hidup tak lagi menyenangkan untuk dijalani. Ketika hari2 terasa begitu pedih dan menyayat hati. Ketika kegelapan seolah tak kunjung beranjak dari muka bumi. Bukankan selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri? Selagi masih hidup dan bernafas, bukankan selalu ada kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya?

Keikhlasan, kerendah-hatian, pertobatan, adalah salah satu obat mujarab agar bisa berdamai dengan diri sendiri. Selagi bisa memaafkan dan berdamai dengan diri senidiri, otomatis jalan untuk memaafkan dan berdamai dengan sesama akan dilapangkan. Jika bisa memaafkan dan berdamai dengan sesama, maka jalan pengampunan dan kedekatan dengan Tuhan akan dilancarkan. Semuanya saling berkaitan satu sama lain. Saling tergantung satu sama lain.

Jadi, akankah kita menjadi seorang pemenang atau pecundang? Pecundang adalah orang yang tidak berani untuk bangkit dari keterpurukannya dan akan selalu bersembunyi di kegelapan dengan menyimpan kesalahan banyak orang, bahkan kesalahannya sendiri. Sementara pemenang adalah orang yang berani menghadapi dan menjalani setiap hari baru, dengan semangat dan pengharapan yang juga baru. Sang pemenang adalah orang yang tidak pernah berhenti belajar memperbaiki diri sendiri dan berusaha menjadikan hidupnya menjadi lebih baik dan lebih indah dari hari2 sebelumnya.

Selanjutnya terserah Anda....^=^
* It's my hope in the new year

0 komentar:

Posting Komentar