Aku dan Parokiku

23 Februari 2010
Sebagai bagian dari gereja, otomatis aku menjadi bagian dari anggota keluarga Allah secara nyata.  Karena menjadi bagian dari GK (gereja katolik), secara tidak langsung  aku terikat pada susunan hirarki di mana pucuk pimpinan tertinggi di dunia ini ada di tangan Paus dan pucuk pimpinan terendah ada di tangan romo parokiku.  Hanya saja dalam kenyataannya sekarang ini, aku tinggal di suatu paroki yang menurutku sungguh aneh tapi nyata.

Sebagai  paroki yang baru saja dilahirkan, seharusnya ini menjadi momen penting bagi seluruh umat untuk memulai segalanya dengan baik dan benar.  Baik dan benar dalam susunan kepengurusan, baik dan benar dalam pelaksanaan liturgi di gereja, baik dan benar dalam penyusunan masalah administrasi di paroki, baik dan benar dalam masalah katekisasi umat, baik dan benar dalam mengikuti perayaaan ekaristi sesuai dengan TPE yang baru, baik dan benar dalam hubungan antar umat satu sama lain, baik dan benar dalam mengusahakan dan mengupayakan keberadaan paroki ini sehingga bisa menjadi suatu paroki yang bisa dibanggakan.

Tapi sayangnya semua keinginan tersebut hanya menjadi sekedar keinginan yang tidak jelas mau dilaksanakan kapan.  Yang kulihat adalah, paroki balita ini sungguh tidak jelas arahnya mau dibawa kemana.  Dengan umat yang berasal dari kalangan menengah ke bawah, dan dengan pemahaman hidup menggereja yang masih minim, bisa dibilang jalannya masih tertatih-tatih.  Masih perlu dituntun.  Masih perlu disentil telinganya supaya mengerti.  Masih perlu ditunjukkan rambu2 supaya tidak hilang arah dan salah tujuan.  Sayangnya "tukang" penunjuk arahnya ini yang bisa dibilang nggak ada.  Romo parokinya kemana, umatnya kemana.  Tidak  nyambung!

Aku pribadi tidak mengerti, mengapa romo parokiku terlalu cuek.  Dia bosan mengurus para domba yang susah diatur ini, atau memang beliau tidak mau tahu situasi dan kondisi yang terjadi?  Setahuku romo parokiku tipe perfeksionis yang selalu menuntut umat untuk begini dan begitu.  Tapi setahuku, belum pernah sekalipun ia "menegur" segala macam bentuk kesalahan/ pelanggaran yang terjadi di dalam pelaksanaan liturgi di gereja.  Di matanya, segala bentuk pelanggaran itu adalah hal yang wajar.  Padahal, bagaimana kita bisa tahu dan paham mana yang benar dan mana yang salah jika tidak ditunjukkan?

Sebagai seorang domba, aku suka keki dengan romo2 di parokiku.  Seolah-olah mereka bukan gembala. Kalaupun terlihat seperti gembala ya pada saat mimpin misa saja.  Apakah karena mereka sendiri marah kalau dikritik umat sehingga mereka pun tidak mau membetulkan kesalahan umat?  Takut nggak didengar ama umatnya.  Bagaimana umat bisa tahu itu suatu kesalahan jika tidak pernah diberitahu bahwa itu salah? 

Contoh nyata saja, seharusnya dalam dua tiga tahun belakangan ini umat sudah paham dan mengerti pelaksanaan tata perayaan ekaristi (TPE) yang baru.  Tapi sejauh ini di parokiku semuanya masih amburadul.  Biarpun sudah disosialisasikan di komunitas-kokomunitas, tapi tidak pernah disosialisasikan di gereja pada saat misa.  Itu sebabnya sekarang ini, kalau misa, ada umat yang seharusnya berdiri malah duduk, yang seharusnya berlutut malah berdiri, yang seharusnya duduk malah mondar-mandir kemana-mana.  Coba kalau sejak awal romo parokinya aktif memberitahu dan mengingatkan sampai betul2 dingat oleh umat.  Pasti nggak akan kacau suasana misa tiap hari minggu.  Belum lagi urusan koor yang suka bikin nada slendro sendiri.  Nggak nyambung sama not yang tercantum di buku/ teks.

Sebenarnya di parokiku banyak bertebaran tenaga2 bertalenta.  Mayoritas punya background dalam pelayanan di gereja tempat asal masing-masing.  Hanya saja melihat respon dari romo paroki yang kurang "tanggap" maka hanya berhenti sebatas datang ke gereja saja.  Tidak ada keinginan untuk berbuat sesuatu bagi paroki yang masih baru ini.  Tidak heran jika yang muncul kemudian adalah orang2 dengan kapasitas yang penting mau.  Sementara orang yang mau ini belum tentu tahu.  Kalaupun dikasih tahu biasanya tidak mau tahu.  Apalagi kalau disuruh mencari tahu.

Bagaimanapun juga aku adalah bagian dari paroki.  Bagian dari sistem hirarki GK.  Jadi mau tidak mau, setuju atau tidak setuju, paling tidak aku harus ikut berperan aktif di dalam gereja. Minimal di wilayah yang lebih sempit yaitu di komunitas.  Lewat komunitas inilah, aku ingin menimba pelajaran agar bisa memahami dengan kacamata iman mengapa kalau mau mengikut Yesus  harus berani menyangkal diri dan  memikul salib.

Menjadi domba.....why not?

2 komentar:

  1. Si Toing mengatakan...:

    Martina, boleh tau dikau di paroki mana ? mmm .. kl sensi, kita japri aja deh .... email aku di si.toing@gmail.com ya ... pengen share aja ;)

    Intan

  1. Bunda Pilar mengatakan...:

    aku di salah satu paroki di Batam. Paroki baru sih...tapi umatnya serba complicated......!
    emailku di mbaktina71@gmail.com

    thanks krn sudah menyapaku....GBU

Posting Komentar