Prapaska - Hari ke-2

18 Februari 2010
"Setiap orang yang mau mengikut Aku harus memikul salibnya setiap hari”

(Ul 30:15-20; Luk 9:22-25)

“Yesus berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga." Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri” (Luk 9:22-25)

Menurutku Injil hari ini berbicara tentang sesuatu yang "tidak lucu".  Bayangkan saja, bukan kata-kata atau janji-janji manis yang disampaikan oleh Yesus, tetapi sebuah penekanan bahwa keputusan untuk mengikuti Dia itu tidaklah semudah membalik telapak tangan.  Banyak onak dan duri yang harus dilewati untuk bisa sampai kepada Dia.  Hanya ada satu pintu sempit dan bukan pintu besar di mana orang bisa leluasa keluar masuk seenaknya

Yesus tidak mengatakan bahwa dengan mengikuti Dia segalanya akan baik-baik saja.  Ia tidak mengatakan bahwa dengan mengikuti Dia situasinya akan aman-aman saja.  Dengan jelas Ia menyatakan bahwa harus ada penyangkalan diri dan memikul salib setiap hari, baru kemudian sampai pada satu titik yaitu  mengikuti Dia. 

Dalam perjalanan imanku sebagai seorang kristiani, aku sering lupa dengan sabda Yesus tersebut di atas.  Itu sebabnya sabda itu seringkali hanya menjadi sekedar kata-kata yang masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan.  Kalaupun tidak keluar bukan berarti ia nyangkut di hati dan di pikiranku tapi langsung menerobos masuk dan keluar lewat "pintu" belakang menjadi suara kentut.

Penyangkalan diri bagiku berarti: berani keluar dari kesenangan-kesenangan duniawi yang bisa membuat aku lupa diri.  Contoh :


  • lebih mementingkan pergi ke gereja daripada nongkrong di mall2 atau plaza pada hari Minggu. 

  • lebih mementingkan hadir dalam doa komunitas daripada sibuk nonton sinetron di TV, atau chating dan browsing hal2 yang tidak perlu di internet.

  • lebih mementingkan ikut ibadat jalan salib daripada mengiyakan ajakan makan2 seorang teman di saat yang sama.

  • lebih mementingkan untuk "taat" dengan aturan2 dalam Gereja Katolik yang telah ditetapkan daripada mencari-cari kepuasan pribadi di gereja teman atau kenalan.

  • lebih memilih untuk mengikuti misa di GK (yg katanya "kurang" bersemangat itu)  daripada misa di gereja lain yang banyak menawarkan janji2 surga.

  • lebih memilih untuk "tidak" menikah dengan orang yang sudah jelas2 beda keyakinan daripada harus mengorbankan iman.

  • dll.

Memikul salib bagiku berarti: berani menanggung segala sesuatu di dalam Dia dan hanya untuk Dia.  Siap bertanggung jawab sepenuhnya sebagaimana seorang kristiani yang telah dewasa dan telah menerima sakramen penguatan (krisma).  Contoh :
  • tidak "kabur" dari Gereja ketika bermasalah dengan umat atau romo parokiku.
  • tidak ngomeli atau menyalahkan Tuhan atas masalah yang terjadi di dalam hidupku.
  • siap untuk tidak diakui oleh keluarga & sanak saudara karena mengikuti Yesus
  • siap untuk tidak mendapatkan fasilitas sebagai seorang warga negara karena menjadi bagian dari agama minoritas di Indonesia.
  • siap untuk menjadi "garam" dan "terang" dunia.
  • siap untuk mengampuni dan mendoakan mereka yang memusuhiku.
  • siap diutus menjadi abdi di manapun dan kapanpun sesuai dengan doa perutusan yang setiap akhir misa selalu diucapkan oleh para imam bagiku.
  • belajar untuk meneladan Dia dengan segala "kerumitan"Nya.
  • dll.
Terus terang semua persyaratan di atas sangat BERAT bagiku.  Aku toh hanyalah manusia biasa yang sewaktu-waktu bisa khilaf dan terjerumus.  Terkadang kemilau dan kemewahan duniawi terasa lebih menggoda gaungnya daripada menghayati syahadat para rasul yang kuucapkan setiap hari Minggu.

Minimal dengan sabda Yesus di atas aku dikuatkan dan diteguhkan, bahwa segala sesuatunya akan terasa mudah jika Ia tinggal dalam aku dan aku dalam Dia.  Semoga Injil hari ini menjadikan pembelajaran yang sungguh berarti dalam hidupku dalam menjalani peziarahan ini.

0 komentar:

Posting Komentar