Minggu Palma 2010

31 Maret 2010
Perayaan Minggu Palma di parokiku kali ini dihadiri oleh begitu banyak umat.  Maklum saja, misa difokuskan hanya 1 kali dari yang biasanya diadakan 3 kali.  Tidak heran jika satu jam sebelumnya umat sudah berduyun-duyun datang.  Jumlahnya membludak pada saat misa dimulai.  Takut tidak kebagian kursi.

Setiap minggu palma selalu dimulai dengan upacara perarakan.  Seperti tahun-tahun sebelumnya acaranya dimulai dari gua Maria yang terletak tidak jauh dari gereja.  Hanya beberapa meter.  Masalahnya karena banyak orang yang merasa takut tidak kebagian kursi, maka mereka tidak mau mengikuti upacara dari gua Maria, tapi malah langsung duduk-duduk manis mencari tempatnya masing-masing di gereja.  Dan lucunya, meskipun berkali-kali diumumkan untuk segera menuju ke gua guna mengikuti perarakan, dengan bebalnya sebagian umat lebih memilih untuk menebalkan telinga dan pura2 tuli daripada ujung2nya nanti tidak kebagian kursi.

Sejak awal aku sudah ngomel ke suamiku (yang sudah jelas2 bukan panitia), kenapa panitia paska  selalu tidak pernah bisa mengantisipasi kehadiran umat.  Tidak pernah belajar dari pengalaman.  Sebenarnya dengan mengetahui misa diadakan hanya 1 kali saja, seharusnya panitia sudah bisa mengantisipasi dengan menyediakan kursi lebih dari biasanya. Jadi tidak ada umat yang harus berdiri selama misa yang memakan waktu agak lama dari biasanya.

Sungguh sangat disayangkan, karena ternyata misa minggu palma yang seharusnya sakral dan berlangsung dengan khidmat malah dipenuhi dengan gerutuan, omelan dan keluh kesah sebagian umat karena kebanyakan kursi diduduki oleh anak2 kecil yang notabene mereka tidak akan bisa duduk diam di kursinya masing2.  Ujung2nya kursi hanya ditempati oleh tas orangtua dan "cemilan" anak2 sementara banyak lagi yang harus berdiri di tengah sengatan panas matahari.

"Seandainya saja setiap minggu adalah minggu palma!" kata pastor.  "Sungguh sangat menyenangkan melihat umat yang membludak, bersemangat, ditambah dengan koor yang indah dan petugas yang penuh dedikasi.  Sayangnya minggu palma datang hanya setahun sekali!"

Di tengah acara misa yang bisa jadi masih banyak kekurangan di sana sini, aku bisa merenungkan satu hal :  Bisa jadi suasana orang Israel yang mengelu-elukan Yesus dulu ya seperti ini.  Sangat kontradiktif.  Sebentar mengelu-elukan Yesus, sebentar kemudian berteriak sekeras mungkin "salibkan Dia!".  Ini sama dengan ratusan umat yang datang ke gereja untuk mengikuti misa, tapi berdiri sebentar saja untuk mengikuti perarakan begitu merasakan keberatan.  Takut lelah.  Takut capek tidak kebagian tempat duduk.  sedikitpun tidak ada keinginan untuk "sungguh" ingin merasakan penderitaan Kristus.

Itu mungkin sebabnya mengapa Yesus tidak meminta pertolongan manusia untuk membawanya masuk ke dalam kota Yerusalem.  Ia malah lebih suka meminta pertolongan seekor keledai.  Mungkin karena yang namanya manusia itu tidak bisa dipercaya.  Mereka adalah makhluk hipokrit yang selalu mencari celah bagaimana caranya menyenangkan diri mereka sendiri.  Selalu berpamrih.  Sedangkan keledai biarpun kata orang otaknya dodol tapi mereka tidak pernah berpamrih.  Tidak pernah menuntut jasa atas apa yang telah dilakukannya.

Sungguh sangat ironis sekali!  Yesus lebih suka minta tolong keledai daripada minta tolong kita!  Barangkali bagus juga jika sekali-kali kita berhenti "meminta, menyuruh, memerintah, memaksa" Yesus melakukan sesuatu untuk kita, dan menggantinya dengan pertanyaan : "Tuhan, apa yang Kau butuhkan dari aku?"

Masalahnya adalah : Sanggupkah kita mengatakan demikian???

0 komentar:

Posting Komentar