Janganlah Takut!

17 Juni 2010
"Janganlah takut, janganlah cemas.  Di dalam Tuhan, berlimpah rahmat.  Janganlah takut, janganlah cemas.  Serahkan Tuhan"

Di atas adalah salah satu lagu Taize yang sangat kuidolakan.  Jika dinyanyikan dengan sepenuh hati dan sepenuh rasa, akan ada aliran "listrik" yang tiba-tiba  menggerayangi kita.  Menimbulkan sensasi luar biasa dan sekaligus mengalirkan sentuhan di lubuk hati   yang paling dalam.  Tanpa terasa air mata akan luruh dalam ungkapan sejuta makna yang bercerita tentang kepasrahan dan keikhlasan seorang anak manusia kepada Tuhannya.

Lagu itu memang begitu pendek.  Terlalu singkat untuk dikatakan sebagai suatu lagu rohani.  Tetapi seperti ciri2 doa Taize pada umumnya, dalam lagu pendek yang diulang-ulang tersebut, kita diajak dan dituntun sepenuhnya untuk menghadap wajah Allah.  Memandang wajah Allah yang penuh cinta.  Memandang wajah Allah yang tidak pernah berubah dari dulu dan sampai sekarang ini, meskipun manusia seringkali berubah berkali-kali.  Manusia yang tidak pernah konsisten VS Allah yang sempurna konsisten.

Seperti manusia normal pada umumnya, ada saat di mana hidup ini begitu menakutkan untuk dijalani.  Ada masa2 di mana aku "merasa" harus berjalan seorang diri.  Perasaan sedih, kecewa, putus asa, tidak tahu mesti berbuat apa,  perasaan tidak berguna sampai perasaan ingin bunuh diri.  Perasaan2 ini seringkali membuatku dengan penuh rasa "percaya diri" menudingkan telunjukku pada Tuhan dan menyalahkanNya untuk semua peristiwa menyakitkan dalam hidupku.  Pokoknya semua ini kesalahanNya karena Ia "terlihat" diam saja pada saat badai hidup memporakporandakan hatiku.  Terkadang ada rasa bahwa imanku telah melayang begitu saja terbang tertiup angin. 

Aku lupa di saat2 genting dalam hidup seperti itu, satu2nya tempat di mana aku bisa sembuh hanyalah dengan memandang wajahNya.  Wajah berlumuran darah yang terluka karena ingin menyelamatkan aku. Kepala bermahkota duri yang cabikannya mungkin lebih menyakitkan daripada semua permasalahan hidupku.  Aku lupa bahwa kematianNya di kayu salib adalah obat yang mujarab bagi segala luka yang ditimbulkan oleh ulah manusia manapun juga.  Aku lupa bahwa akan senantiasa ada harapan lewat kebangkitanNya di hari raya Paska yang dinantikan.

Lagu di atas menjadi idolaku karena kata2nya memang mengandung harapan.  Mengandung kekuatan iman.  Mengandung kepasrahan total dari seorang manusia biasa kepada TuhanNya.  Dengan menyanyikan lagu tersebut, aku tidak perlu menunggu seperti Thomas untuk melihat dulu baru percaya.  Lagu tersebut memberikan kekuatan untuk mengatakan,"Ya Tuhanku dan Allahku, aku percaya!".  Titik.  Tidak ada embel-embel lainnya.  Itulah inti beriman.  Menyerahkan segala sesuatunya, baik atau buruk, ke dalam tangan Tuhan.  Serahkan segala sesuatu padaNya, dan Ia akan melakukan yang terbaik menurut kehendakNya.

0 komentar:

Posting Komentar