Perihal Bersedekah

21 Juli 2010
Salah satu pengajaran Yesus dalam KS yang kusenangi adalah kisah tentang seorang janda miskin yang mempersembahkan seluruh hartanya kepada Tuhan.  Di sana diperlihatkan bagaimana si janda miskin dengan sepenuh hati dan penuh keyakinan memberikan seluruh miliknya tanpa pikir panjang.  Poin yang bisa kudapat adalah tentang "kerelaan" dalam memberi dan "keyakinan" mendalam akan penyelenggaraan Tuhan bahwa semuanya akan "baik-baik" saja.

Sebagai manusia normal, aku belumlah sehebat janda miskin seperti dalam kisah di atas.  Aku seringkali masih harus berpikir ribuan kali sebelum memberi sedekah kepada orang lain.  Masih sibuk memilah-milah mana yang perlu dan mana yang tidak.

Bagaimana ya, cukup atau tidak jika kusedekahkan sebagian dari penghasilanku bulan ini?  Bagaimana ya, bisa atau tidak  aku memberi dari penghasilanku yang pas-pasan ini?  Perlu atau tidak ya si A dibantu sekarang ini?  Ah, lebih baik tunggu saja dulu.  Siapa tahu ada rejeki berlebih nanti.

Seperti itulah kira2 yang sering terjadi.  Aku cenderung memberi hanya pada saat berlebih.  Bukan pada saat memang ingin memberi.  Apalagi pada saat berkekurangan.  Aku masih memakai prinsip "itung-itung"an dalam hal ini.  Belum bisa total dan ikhlas.  Masih memikirkan untung rugi.  Seharusnya bersedekah ya bersedekah saja.  Memberi ya memberi saja.  Tidak perlu berpikir tentang bagaimana akibatnya nanti.  Tidak perlu mencemaskan hal2 yang akan terjadi nanti. 

Ada 2 hal mendasar yang dimiliki oleh janda miskin di atas, yang belum tentu aku miliki.  Kerelaan dan keyakinan.  Keduanya saling terkait satu sama lain.  Janda itu rela tidak makan dengan mempersembahkan seluruh miliknya.  Untuk Tuhan.  Untuk sesama.  Rela.  Itulah intinya.  Mengapa dia begitu saja merelakan harta satu2nya?  Karena dia memiliki keyakinan yang teguh dan kuat.  Keyakinan bahwa Tuhan tetap akan memeliharanya, tetap akan menjaganya, meskipun ia tidak punya apa-apa.  Beriman.  Janda itu memiliki iman.

Banyak orang yang percaya tapi tidak banyak orang yang beriman.  Percaya kepada Yesus belum tentu yakin kepadaNya.

Bisa jadi aku masih perlu belajar banyak kepada Yesus tentang bagaimana harus "memberi".  Butuh proses yang panjang untuk bisa mencapai kesempurnaan hidup dan mampu memahami tentang arti kata "memberi tanpa pamrih".  Seperti biasa, hal itu tidak mudah.  Lebih  mudah berkata-kata daripada mempraktekkannya.  Hanya saja jika tidak dimulai dari sekarang untuk berani belajar, kapan lagi aku akan belajar?  Selagi ada waktu, lakukan saja apa yang sekiranya perlu untuk dilakukan. 

Mungkin aku bisa mulai dari rumah.  Memberikan sebagian waktuku untuk keluarga.  Menemani anak2 belajar dan berusaha membantu pada saat mereka memerlukan aku.  Bisa mulai dari hidup menggereja.  Memberikan  sebagian waktuku untuk doa komunitas  dan menyisihkan sebagian kecil dari penghasilanku untuk para seminaris serta tumbuh kembang gereja.  Bisa mulai dari tempat kerja. Menjadi donatur tetap untuk kelangsungan sekolah anak salah satu karyawan.  Bisa dari manapun juga.

Apakah aku akan dicukupkan nantinya?  Hanya Tuhan yang tahu.  Yang pasti hingga saat ini, aku merasa masih bisa memberi dari kekuranganku, meskipun baru sedikit jumlahnya.  Siapa tahu ke depannya akan lebih banyak waktu dan materi yang bisa kupersembahkan untuk Tuhan dan sesama.

0 komentar:

Posting Komentar