Komuni I si Pilar

19 November 2011
Tidak terasa si Pilar sudah 11 tahun dan sudah waktunya menerima Komuni I.  Karena  tidak bersekolah di SD Katolik, maka kami mengikuti kebijakan paroki di mana kami tinggal, untuk mengikutsertakan anak2 yang akan menerima Komuni I, langsung dalam pembinaan gereja paroki, yang dalam hal ini diwakili oleh para fasilitator paroki.  Selain harus mengikuti kegiatan yang ditentukan oleh paroki, umur anak2 pun ditentukan minimal harus 11 tahun (rata2 kelas lima ke atas).

Dalam hal ini aku setuju2 saja, karena menurutku bagus juga apabila anak2 ikut Komuni I pada saat mereka memang sudah lebih sedikit "dewasa" dalam pengetahuan dan pemahaman akan iman Katolik.  Anak2 kelas 5 ke atas, lebih mudah diajak "berbicara" daripada anak2 yang umurnya memang jauh lebih muda dari itu. Asumsiku, jika pelajaran diadakan setelah Misa pagi, mereka juga tidak akan terlalu lelah jika harus melanjutkan pelajaran sampai jam satu siang.

Hanya saja ternyata, pembinaan yang kuperkirakan bisa dimulai sejak Pilar naik kelas 5, ternyata baru bisa dimulai pada saat Pilar naik ke kelas 6.  Bayangkan saja betapa sulitnya anakku membagi waktu antara sekolah (yang notabene sudah harus mulai banyak belajar untuk mempersiapkan ujian kelulusan) dan belajar Komuni I dengan segala aturan2nya yang serba ribet dan melelahkan.

Hari pertama pertemuan secara khusus aku menemani Pilar ikut ekaristi Minggu pagi dan dilanjutkan dengan pelajaran hari pertama.  Pembinaan diberikan dengan cara AsiPA (sharing Injil 4 langkah).  Cara ini adalah cara yang biasa dilakukan dalam doa komunitas/ lingkungan di mana suasananya harus betul2 suasana doa.  Jadi  setelah ikut misa, anak2 yang ikut pelajaran komuni I, sekali lagi, harus  masuk kembali alam  doa dan berusaha untuk mendalami materi2 yang diberikan dengan tidak bisa "bersantai" sedikit pun.

Bayangkan saja, misa pagi di parokiku tergolong lama.  Mulai jam 8 dan paling cepat jam 10 selesai (tergantung siapa pastor yang memimpin).  Sesudahnya dilanjutkan dengan pembinaan dari jam 10 sampai jam satu siang.  Total 5 jam yang melelahkan.  Mengapa melelahkan?  Karena pelajaran tidak diberikan dalam suasana santai, menyenangkan, dan penuh keakraban, tapi diberikan dengan cara di bawah "tekanan".  Karena berada dalam suasana doa, bahkan untuk minum pun anak2 segan dan takut.  Pelajaran tiga jam yang "garing" dan bersifat teoristis belaka.  Jangankan anak2, orang dewasa pun pasti akan masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri saja.  Kata gaulnya "nggak ngepek tuh!"

Itulah yang harus dihadapai anakku dan anak2 lainnya setiap Minggu.  Materi2 yang membosankan dan "lebay" dalam penyampaian.  Belum lagi tugas2 tambahan yang harus dikerjakan di rumah sebagai tambahan nilai untuk bisa lulus dan dianggap mampu menerima Komuni I.  Harus merangkum materilah, harus ikut doa komunitaslah, harus inilah, harus itulah.  Terlalu banyak tugas dan terlalu banyak teori.

Selain pertemuan para calon komuni pertama yang diadakan setiap Minggu, ada juga pertemuan untuk para orangtua calon komuni pertama yang diadakan sesuai dengan jadwal paroki sebanyak 8 kali pertemuan.  Dari pertemuan ke-1 sampai hari ini sudah pertemuan ke-6, aku tidak merasa mendapatkan apapun juga.  Jika para fasilitator beranggapan bahwa para orangtua juga perlu mendapatkan pembekalan dalam pendidikan iman2 anak2nya aku setuju.  Hanya saja dengan cara penyampaian materi yang monoton dan membosankan seperti itu, bukan pembekalan yang kami dapatkan, tapi hanya omelan ketidakpuasan, mengingat pelajaran diadakan dari jam 2 siang sampai jam 4 sore hari Minggu.  Apalagi para fasilitator yang memberikan pelajaran bukan orang2 yang memang punya "kemampuan" di bidang itu.  Mereka hanyalah orang2 yang kebetulan mau jadi fasilitator.  Titik!  Itu sebabnya meski dipaksa kayak manapun, gaya pengajaran mereka tetap saja membosankan.

Tidak tahu apakah aku yang lebay dan banyak menuntut, tapi menurutku, pembinaan yang bertele-tele tidak akan efektif menciptakan manusia Katolik yang sungguh beriman dan paham akan jati dirinya sebagai orang yang sungguh beriman Katolik.  Segala macam teori yang dipaksakan untuk masuk berjejal-jejal tanpa didukung oleh sikap hidup yang mencerminkan umat beriman, akan sia2 belaka.  Terus terang dengan penyampaian dan pengajaran tentang agama Katolik yang cenderung "dipaksakan" aku menyimpan rasa kekuatiran yang besar terhadap perkembangan iman anak2ku.  Aku kuatir mereka punya rasa takut yang berlebihan terhadap Gereja.  Rasa takut yang berlebihan akan membuat mereka semakin jauh dan bukan semakin dekat.

Tidak bisakah pelajaran Komuni I diberikan dengan cara2 yang lebih santai dan penuh dengan cinta kasih?  Tidak bisakah anak2 diberikan kesempatan untuk mengenal, memahami dan mencintai Gereja dari dalam dirinya sendiri tanpa perlu diintimidasi dan ditakut-takuti? - Jika tidak mengerjakan tugas atau tidak hadir dalam kegiatan, nanti tidak lulus komuni pertama loh... -  Tidak bisakah anak2 diperkenalkan kepada Allah yang penuh cinta lewat para pembina yang berwajah ramah, bertutur lembut, dan tidak gampang menghakimi setiap kesalahan mereka?  Tidak bisakah anak2 mengalami hal2 yang menyenangkan dan menggembirakan ketika mereka "belajar" untuk semakin mengenal Allah?  Bukankah Allah kita adalah Allah yang merdeka, riang dan gembira?

Ini adalah uneg2ku sebagai bagian umat dari parokiku yang sedang dalam peziarahan dan telah memasuki usia 8 tahun.  Ini adalah juga uneg2ku sebagai orangtua yang punya tanggung jawab moral guna memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak2nya.  Sebagai bagian dari umat Katolik, aku hanya ingin anak2ku mendapatkan kesempatan untuk bisa lebih mencintai Allah melalui Gereja dan sesama manusia.  Jika berkutat hanya pada teori2 belaka, kapankah mereka sempat mengalami cinta Allah yang sesungguhnya? 

0 komentar:

Posting Komentar