13th Anniversary - Almost

17 November 2012
Mencintaimu hampir tiga belas tahun berlalu membuatku sering amnesia :  bener nggak sih keputusanku saat itu? Rasanya baru kemarin ketika kukatakan "ya" dengan seluruh rangkaian janji yang terus terang membuatku gamang, nggak yakin  akan bisa bertahan sekuat itu.  Namun seiring berjalannya waktu, memang inilah aku, terus dan akan selalu mencintaimu, meskipun kenyataan tak seindah harapan kita dulu.

Aku menatap lagi deretan tulisan yang tertera di layar monitor.  Membacanya berulang sambil sesekali membayangkan wajah manusia yang tengah kulantunkan dalam tulisan (bukan dalam lagu).  Membayangkan slenge'annya setiap kali aku mulai darah tinggi melihat kelakuannya yang terlalu menggampangkan sesuatu.  Membayangkan sifatnya yang terlalu penuh belas kasih terhadap orang lain sampai2 rela cari "utangan" hanya untuk membantu mereka. Membayangkan kemarahannya yang cuman "seuprit" kepada anak2 jika tingkah pola mereka mulai ugal2an di dalam rumah.  Membayangkan kesantaiannya dalam menghadapi berbagai masalah dan sering membuatku bersikap nggak sabaran.  Bagaimana bisa Tuhan menghadiahkan "beliau" ini kepadaku yang notabene serba grubak-grubuk dalam menghadapi segala sesuatu?

Aku tersenyum sendiri.  Secangkir kopi yang sedari tadi menemani rupanya sudah habis tanpa kusadari.  Sama seperti keluarga ini, yang hampir tiga belas tahun mengarungi perjalanan hidup dengan segala lika-likunya. Banyak peristiwa yang telah terjadi dan menjadi saksi bagaimana sebuah janji tidak hanya perlu diucapkan, tetapi juga perlu untuk diwujudkan, bahkan diperjuangkan. Peristiwa2 yang tidak hanya berkutat dalam kegembiraan semata, tetapi juga peristiwa2 menyedihkan yang malah memebuat kami semakin bertahan.

Aku tercenung dalam keheningan.  Hampir tiga belas tahun.....dan kami merasa seolah baru kemarin.  Hampir tiga belas tahun yang penuh suka duka.  Hampir tiga belas tahun, di mana kami sanggup bertahan dalam semangat iman dan ketergantungan akan Tuhan.  Jika bukan karena Tuhan, mungkin tidak satu pun di antara kami yang sanggup bertahan.  Kalau hanya bergantung pada kekuatan masing2 aku jamin tidak ada satu pun di antara kami yang akan kuat.  Kami berdua adalah manusia lemah. 

Suamiku yang suka nyebelin, terima kasih untuk semua hari yang telah kita lalui bersama.  Terima kasih karena masih mau menjadi "pengerem" dalam hidup jika aku mulai lepas kendali.  Terima kasih, karena meskipun terkesan lelet dan sering jadi "mister Tarsok", kesabaran dan keselenge'anmu sering menjadi pelipur laraku.  Terima kasih untuk selalu menjadi suami dan ayah yang baik di keluarga kita.  Tidak ada suami dan ayah yang sempurna, yang ada hanyalah orang yang mau berusaha untuk melakukan hal2 baik bagi keluarganya.

Love u always...:)

1 komentar:

Posting Komentar