Meditasi

14 September 2014
Bagiku, yang paling menyenangkan itu ikut misa jam enam pagi.  Selain udara masih sriwing-sriwing, pagi masih menyisakan keheningan berlimpah.  

Aku ingat bertahun lalu.  Ada banyak hari ketika aku begitu akrab dan hangat denganNya.  Sebuah rutinitas yang begitu membosankan sekaligus kucintai.  Duduk diam dalam keheningan, memasrahkan segala kelebihan dan kekurangan, dalam pandangan mataNya yang menyejukkan.

Jadi, Tuhan,
Setiap ikut misa pagi di paroki ini, aku selalu mengenangkan kebersamaan kita.  Mengenangkan betapa aku begitu bisa bercerita banyak hal di hadapanMu.  Mengenangkan betapa Engkau begitu indah dan penuh cinta.

Meskipun misa pagi jam enam pagi identik dengan koor yang terlalu mendayu-dayu, tapi aku tetap bisa duduk diam dalam keheningan.  Suara kipas.  Hembusan angin di selasar gereja. Ciap burung yang meramaikan datangnya pagi.  Sungguh aku tenggelam dalam detak kehidupan.

Jadi, Tuhan,
Bukannya aku telah melupakan kebersamaan kita.  Aku hanya sering kehilangan waktu.  Aku hanya sering terjebak di jalan buntu.  Aku hanya terlalu banyak berpikir dan mengkuatirkan diri sendiri untuk sesuatu yang tidak pernah kumengerti.  Aku hanyalah sesosok manusia hina, yang sering lupa akan adanya.

Jadi, Tuhan,
kita akan bertemu lebih banyak lagi, di misa jam enam pagi.  Seperti hari ini.

#edisi-rindu

0 komentar:

Posting Komentar