Suksesi

26 Oktober 2015
Adalah hal yang wajar jika suatu saat masa kepemimpinan seseorang harus berakhir.  Wajah lama digantikan dengan wajah baru.  Usia tua digantikan dengan yang lebih muda.  Yang berpikiran 'jadul' digantikan dengan yang lebih "maju".  Bagiku, tidak ada yang mengherankan apalagi meng"aneh"kan. 

Beberapa bulan ini di parokiku terjadi pergantian romo paroki.  Hanya pergantian rutin sebenarnya.  Romo lama diganti dengan romo baru (meskipun berwajah lama).  Yang satu berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.  Dari sana dioper ke sini.  Sudah biasa seperti itu.  Dan memang harus berjalan seperti itu.  Itulah suksesi dalam Gereja Katolik.

Hanya saja, pergantian kepemimpinan yang biasa2 saja itu, bisa menjadi luar biasa bagi orang2 yang tidak siap menghadapinya.  Orang-orang yang sudah terbiasa dengan gaya romo lama, tiba2 jadi ilfil dengan penampilan dan gaya romo baru.  Manusia-manusia yang terbiasa memandang wajah romo lamanya seperti dewa, seolah melihat hantu jika melihat romonya yang baru.  Ahai.....dan itu terlihat begitu kentara! Perbedaan yang menyolok dan penerimaan yang menohok.  Tidak sulit untuk diterjemahkan.

Sekelompok manusia, yang selama ini terlalu "romosentris", terlihat gamang ketika panutannya berpindah tempat.  Sekelompok manusia, yang selalu bilang "iya", terlihat lunglai ketika romo barunya tidak sesuai harapan.  Sekelompok manusia, yang hanya senang hidup dalam tempurung dan tidak (pernah) mau keluar dari tempat persembunyiannya yang nyaman, serasa mau mati ketika romonya harus berganti.  Sekelompok manusia, yang tidak mau belajar, bahwa dunia itu tidak selebar daun kelor, mulai terlihat aslinya: 'religious' karena romonya. Karena ada maunya.  Bukan karena Junjungan Sejatinya.

Manusia yang hanya relijius karena pimpinannya akan gampang porak poranda saat sang pimpinan menghilang.  Manusia yang hanya relijius karena pamrih, akan gampang menghakimi jika keinginannya tidak dipenuhi.  Dan mereka akan mulai menyebarkan intrik dan gosip.  Mulai membanding-bandingkan.  Mulai memuji sana dan menggunjingkan yang sini.  Mulai mencari teman guna memuluskan ketidakpuasan.  Mulai membenarkan diri sendiri dan menyalahkan banyak orang.  Manusia2 seperti ini, biasanya berbanding terbalik dengan simbol2 relijius yang sering mereka kenakan dan ucapkan.  

Manusia yang sungguh relijius sejatinya harus lebih beriman.  Manusia yang beriman sejatinya harus lebih bisa memandang orang lain dengan kedalaman hati dan jernihnya kasih.  Orang yang sungguh beriman mempunyai hati yang lapang untuk menerima dan memanusiakan manusia lainnya.  Tidak peduli romonya ganti atau tidak, tidak peduli romonya seperti dewa atau seperti hantu, tidak peduli romonya seperti bintang sinetron atau pemain lenong, tidak peduli romonya gaya metal atau keroncong.  Menurutku, jjika mau melakukan sesuatu, ya lakukan saja!  Yang penting adalah bagaimana membuat Yesus senang, bukan romo senang.  Yang penting adalah bagaimana kita merasa gembira dan bahagia ketika bisa melakukan sesuatu untuk Gereja, bukan karena ingin romonya tersenyum dan tertawa bersama kita.

Temans, ingatlah, romo....pastor....biarawan....biarawati.......apapun namanya, mereka juga manusia.  Meskipun secara imani mereka adalah para pekerja di kebun anggur dan seharusnya bisa menjadi panutan, mereka toh tetap manusia yang tidak bisa lepas dari luput dan salah.  Sebagai umat, tentu saja kita tidak bisa mengharap diberikan romo yang sesuai dengan kemauan kita masing2.  Berapa banyak romo yang kita butuhkan jika maunya seperti itu.  Dan tidak bisa dipungkiri, bisa jadi ada juga di antara kita yang pengin punya romo imyut....pinter.......ramah...nggak somsek......!  Terlepas dari semua pengharapan tadi, menurut hemat saya, terima sajalah apa yang ada.  Dengan menerima yang tidak sesuai harapan, di situlah iman kita diuji, sepenuh-penuhnya!  Belajar mencintai, karena Yesus sendiri yang telah memilih mereka untuk menjadi  murid-muridNya.

Semoga dengan ini iman kita semakin dikuatkan.  Cinta kita semakin dilimpahkan.  Dan pemahaman2 yang picik semakin dicerahkan.  Bagi yang mau terlibat di gereja, monggo.  Bagi yang mau duduk manis di rumah ya monggo.  Tidak ada paksaan dalam pelayanan. Semua terserah Anda.  Yang penting hidup itu harus bahagia.   Titik! Jadi tidak perlu dipermasalahkan, siapa yang akan menjadi romo di paroki kita.

Selamat berhari Senin dari kota transitan asap.

0 komentar:

Posting Komentar