Merajuk

07 Agustus 2016
Sudah berbulan-bulan saya merajuk pada Tuhan.  Saya ngambek.  Marah tanpa sebab.  Berbulan-bulan saya sengaja absen dari semua kegiatan gereja. Berbulan-bulan saya menghadiri misa kudus dengan perasaan hampa. Saya merasa bahwa Tuhan sedang berlaku tidak adil pada saya.  Tidak adilnya di mana, saya juga tidak tahu.  Tiba2 saja saya kehilangan rasa.

Bermula di awal tahun, suami saya kehilangan pekerjaan.  Itu kekecewaan saya yang pertama.  Saya tahu bahwa saya tidak perlu menyangkutpautkan Tuhan dalam hal ini.  Tapi kok ya, sekali lagi, saya kecewanya sama Tuhan.  Saya merasa bahwa Tuhan diam saja.  Saya merasa bahwa Tuhan dengan sengaja membiarkan semuanya itu terjadi.  Saya, seperti orang2 tidak beriman lainnya, sibuk menyalahkan Tuhan.  

Kedua adalah ketika penilaian tahunan saya diganti oleh orang yang bukan bos saya langsung.  Ketika beliaunya 'bermasalah' dengan bos saya, saya ikut-ikutan kena getahnya.  Bos saya ditendang, dan saya kehilangan hampir separuh hak saya karena penilaian yang saya dapatkan dengan penuh perjuangan, hilang begitu saja.  Dalam hal ini saya kembali bertanya, "Engkau di mana, Tuhan?"  Hati saya sakit dan terluka.  Dan lagi2 saya menyalahkan Tuhan.  Sekali lagi Tuhan menjadi kambing hitam.

Endingnya adalah ketika adik bungsu saya memberi kabar:  rahimnya ada kista dan harus dilakukan pengangkatan.  Saya pun makin ingin menjauh dari Tuhan.  Kekecewaan saya berbuncah.  Saya merasa bahwa Tuhan sedang tidak ingin memandang saya.  Jadinya saya suka 'baper' pada saat datang ke gereja. Di satu sisi saya merindukanNya, di sisi lain saya masih ingin melanjutkan marah saya, rajukan saya.

Bisa jadi Tuhan juga sedang 'puyeng' menghadapi kelakuan saya yang kekanak-kanakan.  Merajuk tak habis2.   Bisa jadi Tuhan juga sedang bingung bagaimana cara meluluhkan sebongkah batu kekeraskepalaan yang saat ini tengah bercokol di hati saya.  Bisa jadi Tuhan sedang menguji iman saya yang tidak seberapa ini.  Tapi untuk apa?

Dalam proses merajuk, ada kalanya saya hilang percaya.  Dalam proses terluka, terkadang saya hilang iman.  Apakah Tuhan memang benar2 ada?  Mengapa Dia diam saja ketika saya, kami tertimpa masalah?  Di manakah Dia?  Sebuah pertanyaan yang bodoh sebenarnya.  Sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab.  Tapi toh pertanyaan2 seperti itulah yang saya ajukan setiap hari.  

Saya sering lupa dan berpura-pura tidak melihat betapa segala kebaikan dan tanda kehadiranNya begitu nyata......

Berbulan-bulan, dalam proses merajuk, kami sekeluarga masih diberikan kesehatan. Pada saat suami kehilangan pekerjaan, saya masih memilikinya.  Anak2 sehat meskipun sering membuat saya kehilangan akal.  Saya masih bekerja meskipun nilai tahunan saya diturunkan lewat cara yang melewati azaz keadilan.  Saya masih hidup dan menikmati masa2 indah saya dengan keluarga.  Adik saya punya pilihan dokter yang lain untuk menyembuhkan penyakitnya.  Semuanya tidak ada yang berubah.  

Perlahan tapi pasti, saya ingin mengakhiri semuanya.  Saya ingin berdamai dengan Tuhan.  Saya ingin memandangNya lagi dengan penuh cinta seperti sebelumnya.  Saya ingin mohon pengampunan.  Betapa selama ini iman saya memang kekanak-kanakan.  Jika Tuhan adalah Sang Maha Cinta dan Pengampun, saya percaya Ia yang akan menyembuhkan luka hati dan rasa kecewa saya.  Jangan berharap kepada manusia, berharaplah hanya kepadaNya.  Karena Dia yang tahu seluruh seluk beluk rasa dan isi hati kita.

Quote for the day :#Dalam masa2 sulit, akan terlihat, siapa kawan dan lawan yang sesungguhnya.

0 komentar:

Posting Komentar