Komuni I 2017 - Pertemuan Pertama

19 Maret 2017
Hari ini adalah seleksi pembinaan komuni pertama di paroki untuk tahun 2017.  Jika tahun-tahun sebelumnya anak-anak dites dan diseleksi dengan bertele-tele, dibuat mabuk dengan berbagai macam modul yang harus dipelajari, maka tahun ini agaknya menjadi agak spesial sedikit.

Pembinaan untuk anak-anak hanya akan dilakukan sebanyak 10 kali pertemuan, ditambah dengan pertemuan untuk orangtua hanya 5 kali saja.  Tes dilakukan berdasarkan tingkat usia dan sekolah.  Semua serba dipermudah, supaya anak-anak tidak merasa takut dan tertekan.  Wajar saja jika peserta yang terdaftar tahun ini sungguh sangat luar biasa: banyak banget dah!. 

Tahun ini aku mendaftarkan Altar dan Lunar bersama-sama.  Yang satu kelas 5 SD dan yang satunya kelas 3 SD, meskipun bodi sudah sebesar anak SMP.  Maksudnya, biar sekali jalan dalam mengikuti pembinaan dan sekaligus biar ada teman nantinya.  Kalau menunggu tahun depan, si bontot ini ini akan lebih malas lagi karena merasa tidak ada temannya.

Tapi....ya Tuhan.....diam-diam si Lunar mogok.  Pada saat kami mengikuti pertemuan orangtua, dianya malah nongkrong di sudut kantin gereja dan menolak untuk mengikuti seleksi.  Jadi, terpaksalah emaknya ini turun tangan.  

"Kenapa nggak masuk, dek? Nanti gurunya mencari!"

"Nggak mau!  Lunar nggak mau masuk dan ikut seleksi!"

"Lho, kenapa?  Kan sudah daftar?"

"Aku takut lupa, Bun.  Memang sih aku sudah hafal doa-doa dasar, tapi kalau sudah maju nanti, aku pasti lupa!"  dia kekeuh tidak mau masuk.

"Ya sudah.  Ayo bunda temani.  Pasti nanti jadi berani!  Tesnya kan sekarang gampang-gampang.  Ngapain takut?" aku mencoba menenangkan.

Setelah ba bi bu dengan berbagai macam argumen, akhirnya dia pun beranjak dari kursinya.  Kutemani dia berkumpul dengan teman-teman sebaya yang juga mau ikut tes komuni pertama.  Beberapa di antara mereka menyambutnya dengan ramah.  Dan, dia pun segera lupa dengan takut dan groginya, serta mulai melupakan emaknya.

Daripada bengong, aku menawarkan diri membantu seleksi. Guru pembina hanya beberapa, sedangkan yang dites luar biasa.  Setelah dibriefing sejenak oleh sang ketua, akhirnya dari hanya sekedar mengantar, aku pun akhirnya 'kecemplung' juga.  Lumayan, dapat menyeleksi 3 anak setingkat SD kelas 6, 1 SMA, 2 SMP dan 1 dewasa.  

Rata-rata yang mendapat giliran seleksi denganku sudah hafal dengan doa dasar.  Hanya saja, mereka masih 'bolong-bolong' pergi ke gereja.  Padahal, kaitan utama menerima komuni adalah ikut misa di gereja.  Jadi, meskipun hafal doa-doa, tetapi jarang-jarang ikut misa, bagiku tidak ada artinya.  

Aku memandang ke sekeliling. Menurutku, sekuat apapun pembina berusaha, jika tidak ada dukungan orangtua, anak-anak ini akan tetap menjadi anak-anak yang hanya paham teori saja.  Bagaimana mungkin mengharapkan anak-anak ini paham dan mengerti bagaimana menjadi seorang Katolik yang baik, jika mereka tidak pernah melihat contohnya dalam hidup sehari-hari.  Orangtua yang tidak hafal doa dan tidak pernah berdoa di rumah, orangtua yang tidak pernah mengikuti misa, orangtua yang hanya pandai memerintah dan tidak tahu caranya bagaimana menjadi teladan bagi mereka, orangtua yang hanya pandai membentak dan memerintah tanpa tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh anak-anak mereka.

Ah, Yesus yang tanganMu tergantung satu di kayu salib, sementara yang satu mengarah padaku........

Yang utama dan terutama itu adalah belajar bagaiamana mencintaiMu.  Dengan belajar mencintai, semua akan dimudahkan.  Dengan berani mencintai, anak-anak ini akan menjadi anak-anak hebat yang mampu untuk mencintai nantinya.  Tapi jika orangtuanya tidak sanggup mencinta, bahkan mencintai anak-anaknya, bagaimana mereka akan mencintaiMu?  Jika mereka tidak bisa mencintaiMu, bagaimana mereka akan bisa mencintai sesama nantinya?

Ah, mbuhlah.....!

0 komentar:

Posting Komentar