Salib di Gereja Paroki

24 April 2017
"Bun, mengapa salib di gereja kita begitu aneh?  Mengapa tidak berbentuk seperti salib yang seharusnya?" seorang teman bertanya, dengan berbisik-bisik tentunya.

Waduh, aku, jujur saja tidak tahu bagaimana cara menjawabnya.  Dulu sih setahuku, pernah disinggung artinya oleh romo Paroki yang lama.  Tapi karena tidak banyak sosialisasi, akhirnya banyak juga umat yang bertanya, meskipun dalam hati tentu saja.  Dan umat seperti aku ini, yang sukanya setengah-setengah mendengarkan kotbah, tentu saja sudah lupa dengan penjelasannya.  Hanya saja sejak pertanyaan itu, aku jadi terobsesi untuk memandang salib yang dipertanyakan, setiap mengikuti perayaan ekaristi di paroki.  Mosok sih salib sebesar itu tidak ada artinya? 

Aku memandang Dia.  Yesus yang tersalib itu, mengapa hanya satu tangan yang dipaku?  Tangan kanannya masih  menjuntai, seolah menunjuk kepadaku dan kepada umat lainnya.  

"Yesus yang baik, apakah Kau marah padaku? Tangan kananMu seolah-olah menuduh aku, bahwa akulah yang telah menyalibkanMu. Apakah betul demikian, Tuhan?  Jika Engkau marah, lalu mengapa wajahMu tidak mampu melukiskannya? Engkau seolah malah mendoakan aku. Tolong katakan padaku, apakah arti tanganMu yang menjuntai itu? Sungguh aku sudah lupa."

Ah, pertanyaan tentang salib yang aneh itu tiba-tiba saja sering mengusik hari-hariku.   Setiap misa, di depan altar, aku selalu memandang Dia yang disalib.  MemandangNya dengan hati yang tiba-tiba terasa perih.  Selalu begitu.  Memandang salib, otomatis akan memandang ikon Bunda Maria yang tersenyum bening dengan Yesus kecil di gendongan tangannya.  Memandang semua itu sering membawaku pada satu rasa, bagaimana mungkin Sang Bunda bisa begitu kuat dan tegar melihat derita puteranya?

"Bagaimana?  Sudah tahu belum apa artinya salib aneh di paroki kita?" teman yang sama bertanya ketika ada pertemuan doa.  Rupa-rupanya dia masih penasaran dengan keberadaan salib itu.

"Hahaha...masih panasaran ya, dirimu?  Jawabannya.....nggak tahu!  Tapi sedikit banyak aku mulai ingat.  Kalau kurang pas, tanya sendiri sama Romo yang dulu ya?"

Ganti temanku yang terkekeh.  Ia menarikku ke tepi dan terlihat tidak sabar menunggu jawaban.  

"Jadi begini loh ya, tangan Yesus yang disalib satu dan satu masih menjuntai, itu bukan karena pemahatnya lupa untuk membuatnya terpaku di kayu salib.  Ada filosofinya.  Yesus, Sang Maestro Cinta itu, masih ingat untuk mendoakan orang-orang yang menyalibkanNya.  Ia, sebelum wafatNya di salib, meminta pengampunan dari Bapa untuk semua orang yang menyalibkanNya.  Dan mereka yang menyalibkan Dia, bisa jadi itu adalah kita."

Suasana tiba-tiba menjadi hening.  Teman saya itu, dengan kata O yang panjang, hanya mampu mengangguk-angguk, "Ooooo.......begitu ya??"

Dan tiba-tiba ingatanku mengembara pada suatu tempat, di mana Ia disalibkan tanpa kedua belah tangan. Setiap kali memandangNya, Ia seolah memberikan perintah padaku, untuk menjadi pengganti kedua tanganNya di dunia.  Menjadi kepanjangan kedua belah tanganNya, untuk membantu dan menolong mereka yang membutuhkan.  Jadi, salib yang aneh di paroki ini, bisa jadi tidak lebih aneh dibandingkan di tempat lain.  Karena bagian terpentingnya adalah, Dia yang disalibkan di atasnya.  

Salib, pada intinya adalah keberanian untuk berkorban.  Salib adalah lambang penderitaan sekaligus kegembiraan.  Di sanalah kita mengimani Dia yang wafat di salib dan kemudian bangkit dari antara orang mati.  Tanpa salib tidak akan pernah ada kebangkitan. 

0 komentar:

Posting Komentar