Renungan Desember

05 Desember 2009
Ada yang terasa aneh setiap memasuki bulan Desember. Aneh karena seperti tahun-tahun sebelumnya aku akan komplain diam-diam jika tiada hari tanpa turun hujan. Aneh karena tanpa terasa tiba-tiba waktu sudah mendekati natal lagi. Aneh karena tanpa terasa tiba-tiba sudah mau tutup tahun lagi. Aneh karena ternyata kusadari bahwa selama belasan tahun semenjak aku hidup di perantauan, aku tidak pernah merayakan natal di kampung halaman kecuali satu kali saja, dulu, sewaktu aku memutuskan untuk menikah di bulan Desember.

Seperti baru kemarin aku membongkar pohon natal di sudut ruangan dan sekarang mesti membongkar-bongkar kardus lagi untuk memastikan bahwa setiap detil dan bagian dari pohon natal yang tahun lalu kupasang masih utuh dan pantas dipasang kembali tahun ini. Mungkin aku hanya perlu membeli beberapa hiasan tambahan karena hiasan tahun lalu sudah banyak hilang dan rusak oleh tangan-tangan jahil anak-anakku yang senang memandangi kedap-kedip lampu natal sekaligus "nyomotin" hiasannya satu-persatu dari pohonnya. Minimal ada satu pertanda di rumah bagi anak-anak bahwa hari Natal telah tiba karena pohon natal akan terpasang dengan indah pada tempatnya.

Seperti baru kemarin aku bersih-bersih rumah yang tidak pernah terlihat bersih pada hari-hari biasa karena biasanya akan terlihat seperti kapal pecah porak poranda terhantam gelombang lautan, dan memesan segala macam jenis per-kue-an yang tidak pernah mau kuhapal namanya karena terlalu rumit dan pelik untuk diingat. Dan tiba-tiba saja seorang teman mengingatkan aku untuk pesan kue-kue beberapa hari sebelum natal supaya tidak terlalu "mepet" dan "keteteran" pada saat nanti.

Desember tahun ini, sekali lagi aku tidak bisa natalan di kampung halaman dengan berbagai alasan. Selain karena paranoid bepergian saat musin hujan, juga karena berbagai pemikiran tentang penghematan bajet, enerji dan waktu. Ada baiknya memang tidak bersenang-senang dalam situasi dan kondisi yang serba "kepepet". Kepepet karena bernatal ria di dua propinsi yang berbeda membuat aku harus fokus dalam banyak hal terutama dari segi finansial. Belum lagi nasib anak sulungku yang kesempatan libur sekolahnya sangat terbatas. Jadi sekali lagi, memang mau tidak mau aku harus bernatalan di perantauan (toh tanah rantauku sudah otomatis menjadi tanah tumpah darahku, bukan?).

Natalan di kampung halaman atau tidak, bagiku akan tetap bermakna sama. Natal adalah saat-saat istimewa di mana setiap orang punya kesempatan untuk "lebih" mencintai daripada hari biasanya. Natal adalah saat-saat mendebarkan untuk menunjukkan kepada Tuhan, bahwa tidak mudah menjadi 'anak baik' dalam kurun satu tahun ini. Kalau dipikir-pikir lebih banyak saatnya, di mana aku menjadi anak yang sangat nakal di hadapanNya. Tapi paling tidak aku sudah mencoba menjadi yang terbaik. Minimal menjadi yang terbaik bagi keluargaku. Jadi minimal boleh berharap datangnya kado natal dari sinterklas.

Bagiku, natal selalu istimewa. Bagiku, natal selalu indah. Seindah kerlap-kerlip lampu yang terpasang melingkar di daun-daun pohon natal. Seindah doa dan harapan yang selalu kupanjatkan untuk banyak orang, yang pernah menyakiti dan kusakiti hatinya, supaya bagi mereka, natal juga menjadi sesuatu yang istimewa. Hari di mana semua orang mampu membasuh luka dengan cinta. Hari di mana setiap orang bisa berbincang riang tanpa ada sekat dan kebencian. Hari di mana kita mampu melihat Dia yang lahir di palungan sederhana tanpa pesta pora dan gegap gempita. Hari di mana kita patut bersyukur karena masih diberi waktu untuk menyanyikan lagu :"Gloria in Excelcis Deo!"

*Selamat Merayakan Natal 2009

0 komentar:

Posting Komentar