Pensiun

12 Desember 2016
Aku selalu ingin pensiun dari kegiatan gereja.  Memensiunkan diri tepatnya.  Rasanya sudah bukan waktunya lagi untuk kesana kemari dan hidup melulu hanya untuk kegiatan gereja.  Realitanya adalah, sekarang ini, prioritas yang utama adalah hidup untuk keluarga.

Tapi ternyata, pensiun tidak segampang yang kubayangkan.  Aku tidak bisa dengan begitu saja  memensiunkan diri.  Aku tidak bisa dengan begitu saja melarikan diri.  Mau tidak mau aku terus saja terlibat.  Aku tidak sanggup menolak, ketika kehadiranku masih dibutuhkan.  Meskipun hanya sekedar menjadi katekis amatiran di lingkungan.  Menjadi dirigen atau petugas mazmur di paroki.  Atau hanya sekedar masuk ke dalam tim untuk pembinaan babtisan.

Seharusnya aku menolak jika diberikan tugas.  Seharusnya semua sudah harus mulai didelegasikan kepada kaum muda.  Tetapi, lihatlah!  Anak2 muda ini kebanyakan tidak punya rasa percaya diri.  Mereka tidak yakin dengan kemampuannya sendiri.  Jangankan bermazmur di gereja, diminta memimpin doa saja kalang kabut mereka dibuatnya. Tapi itu juga bukan salah mereka semata.  Bisa jadi mereka memang tidak punya 'supporter' untuk melakukan itu semua.

Aku jadi baper. Di satu sisi aku ingin berhenti terlibat.  Di sisi lain,aku memiliki keprihatinan yang sangat dalam terhadap kondisi yang sedang terjadi.  Kondisi di mana semangat menggereja hanya ada di kalangan orangtua.  Sementara orang mudanya, lebih fokus kepada gadget di tangan mereka.

Aku ingin pensiun.  Karena aku merasa bukan lagi menjadi diriku yang dulu.  Semakin tua, pemahamanku tentang beragama terasa semakin berbeda. Kalau dulu aku begitu menggebu-gebu dan cenderung keluar nalar, sekarang mungkin lebih bebas merdeka dalam cara memandang kehidupan.  Lebih bisa melihat Tuhan dalam segala ciptaan.   Berusaha untuk memandang setiap manusia sebagai "manusia" bukan berdasarkan label yang mereka bawa.

Ah.....kurasa aku masih perlu belajar banyak untuk menjadi manusia, yang tahu bagaimana harus memperlakukan Tuhannya.

0 komentar:

Posting Komentar