19 November 2011 0 komentar

Komuni I si Pilar

Tidak terasa si Pilar sudah 11 tahun dan sudah waktunya menerima Komuni I.  Karena  tidak bersekolah di SD Katolik, maka kami mengikuti kebijakan paroki di mana kami tinggal, untuk mengikutsertakan anak2 yang akan menerima Komuni I, langsung dalam pembinaan gereja paroki, yang dalam hal ini diwakili oleh para fasilitator paroki.  Selain harus mengikuti kegiatan yang ditentukan oleh paroki, umur anak2 pun ditentukan minimal harus 11 tahun (rata2 kelas lima ke atas).

Dalam hal ini aku setuju2 saja, karena menurutku bagus juga apabila anak2 ikut Komuni I pada saat mereka memang sudah lebih sedikit "dewasa" dalam pengetahuan dan pemahaman akan iman Katolik.  Anak2 kelas 5 ke atas, lebih mudah diajak "berbicara" daripada anak2 yang umurnya memang jauh lebih muda dari itu. Asumsiku, jika pelajaran diadakan setelah Misa pagi, mereka juga tidak akan terlalu lelah jika harus melanjutkan pelajaran sampai jam satu siang.

Hanya saja ternyata, pembinaan yang kuperkirakan bisa dimulai sejak Pilar naik kelas 5, ternyata baru bisa dimulai pada saat Pilar naik ke kelas 6.  Bayangkan saja betapa sulitnya anakku membagi waktu antara sekolah (yang notabene sudah harus mulai banyak belajar untuk mempersiapkan ujian kelulusan) dan belajar Komuni I dengan segala aturan2nya yang serba ribet dan melelahkan.

Hari pertama pertemuan secara khusus aku menemani Pilar ikut ekaristi Minggu pagi dan dilanjutkan dengan pelajaran hari pertama.  Pembinaan diberikan dengan cara AsiPA (sharing Injil 4 langkah).  Cara ini adalah cara yang biasa dilakukan dalam doa komunitas/ lingkungan di mana suasananya harus betul2 suasana doa.  Jadi  setelah ikut misa, anak2 yang ikut pelajaran komuni I, sekali lagi, harus  masuk kembali alam  doa dan berusaha untuk mendalami materi2 yang diberikan dengan tidak bisa "bersantai" sedikit pun.

Bayangkan saja, misa pagi di parokiku tergolong lama.  Mulai jam 8 dan paling cepat jam 10 selesai (tergantung siapa pastor yang memimpin).  Sesudahnya dilanjutkan dengan pembinaan dari jam 10 sampai jam satu siang.  Total 5 jam yang melelahkan.  Mengapa melelahkan?  Karena pelajaran tidak diberikan dalam suasana santai, menyenangkan, dan penuh keakraban, tapi diberikan dengan cara di bawah "tekanan".  Karena berada dalam suasana doa, bahkan untuk minum pun anak2 segan dan takut.  Pelajaran tiga jam yang "garing" dan bersifat teoristis belaka.  Jangankan anak2, orang dewasa pun pasti akan masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri saja.  Kata gaulnya "nggak ngepek tuh!"

Itulah yang harus dihadapai anakku dan anak2 lainnya setiap Minggu.  Materi2 yang membosankan dan "lebay" dalam penyampaian.  Belum lagi tugas2 tambahan yang harus dikerjakan di rumah sebagai tambahan nilai untuk bisa lulus dan dianggap mampu menerima Komuni I.  Harus merangkum materilah, harus ikut doa komunitaslah, harus inilah, harus itulah.  Terlalu banyak tugas dan terlalu banyak teori.

Selain pertemuan para calon komuni pertama yang diadakan setiap Minggu, ada juga pertemuan untuk para orangtua calon komuni pertama yang diadakan sesuai dengan jadwal paroki sebanyak 8 kali pertemuan.  Dari pertemuan ke-1 sampai hari ini sudah pertemuan ke-6, aku tidak merasa mendapatkan apapun juga.  Jika para fasilitator beranggapan bahwa para orangtua juga perlu mendapatkan pembekalan dalam pendidikan iman2 anak2nya aku setuju.  Hanya saja dengan cara penyampaian materi yang monoton dan membosankan seperti itu, bukan pembekalan yang kami dapatkan, tapi hanya omelan ketidakpuasan, mengingat pelajaran diadakan dari jam 2 siang sampai jam 4 sore hari Minggu.  Apalagi para fasilitator yang memberikan pelajaran bukan orang2 yang memang punya "kemampuan" di bidang itu.  Mereka hanyalah orang2 yang kebetulan mau jadi fasilitator.  Titik!  Itu sebabnya meski dipaksa kayak manapun, gaya pengajaran mereka tetap saja membosankan.

Tidak tahu apakah aku yang lebay dan banyak menuntut, tapi menurutku, pembinaan yang bertele-tele tidak akan efektif menciptakan manusia Katolik yang sungguh beriman dan paham akan jati dirinya sebagai orang yang sungguh beriman Katolik.  Segala macam teori yang dipaksakan untuk masuk berjejal-jejal tanpa didukung oleh sikap hidup yang mencerminkan umat beriman, akan sia2 belaka.  Terus terang dengan penyampaian dan pengajaran tentang agama Katolik yang cenderung "dipaksakan" aku menyimpan rasa kekuatiran yang besar terhadap perkembangan iman anak2ku.  Aku kuatir mereka punya rasa takut yang berlebihan terhadap Gereja.  Rasa takut yang berlebihan akan membuat mereka semakin jauh dan bukan semakin dekat.

Tidak bisakah pelajaran Komuni I diberikan dengan cara2 yang lebih santai dan penuh dengan cinta kasih?  Tidak bisakah anak2 diberikan kesempatan untuk mengenal, memahami dan mencintai Gereja dari dalam dirinya sendiri tanpa perlu diintimidasi dan ditakut-takuti? - Jika tidak mengerjakan tugas atau tidak hadir dalam kegiatan, nanti tidak lulus komuni pertama loh... -  Tidak bisakah anak2 diperkenalkan kepada Allah yang penuh cinta lewat para pembina yang berwajah ramah, bertutur lembut, dan tidak gampang menghakimi setiap kesalahan mereka?  Tidak bisakah anak2 mengalami hal2 yang menyenangkan dan menggembirakan ketika mereka "belajar" untuk semakin mengenal Allah?  Bukankah Allah kita adalah Allah yang merdeka, riang dan gembira?

Ini adalah uneg2ku sebagai bagian umat dari parokiku yang sedang dalam peziarahan dan telah memasuki usia 8 tahun.  Ini adalah juga uneg2ku sebagai orangtua yang punya tanggung jawab moral guna memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak2nya.  Sebagai bagian dari umat Katolik, aku hanya ingin anak2ku mendapatkan kesempatan untuk bisa lebih mencintai Allah melalui Gereja dan sesama manusia.  Jika berkutat hanya pada teori2 belaka, kapankah mereka sempat mengalami cinta Allah yang sesungguhnya? 
07 April 2011 0 komentar

Beriman

Waktu masih anak2, aku selalu yakin dan percaya bahwa Tuhan tahu apa yang harus dilakukanNya untukku.  Seiring dengan waktu, aku sering merasa cemas dan gelisah, apakah Ia akan tetap seperti itu, meskipun aku bukan anak2 lagi.  Secara teori aku begitu yakin dan percaya bahwa Ia akan tetap sama dan tidak pernah berubah.  Kenyataannya aku sering bertanya-tanya, perlahan tapi pasti mulai meragukan, akankah Ia tetap menjadi Tuhan yang sama dan penuh cinta untukku.

Beriman seperti anak2 ("Truly I say to you, whoever doesn't receive the Kingdom like a child will not enter it").

Kalau direnungkan lebih dalam lagi, memang benar adanya.  Anak2 selalu punya keyakinan yang dalam akan pertolongan tangan Tuhan.  Mereka tidak pernah ragu atau malu dalam melakukan sesuatu, dalam mengharapkan segala sesuatu.  Mereka selalu percaya bahwa Tuhan pasti akan baik2 saja.  Tuhan pasti tahu dengan apa yang harus dilakukanNya.

Jujur saja aku kangen semua rasa itu.  Rasa di mana aku meyakini betul bahwa Dia selalu ada untukku.  Rasa yang selalu saja ada dalam setiap peristiwa kehidupanku.  Rasa manis atau pahit.  Rasa sakit atau sehat.  Rasa indah atau buruk.  Apapun peristiwa itu, aku selalu ingin menjadi seorang kanak2 yang tidak pernah padam dalam berkeyakinan.  Tidak pernah berhenti untuk berharap.  Selalu menghadirkan senyuman meskipun sadar bahwa jalan bisa jadi terjal berbatu.

Tahun ini aku masuk 40 tahun.  Kalau hitungan mundur dengan prediksi usiaku hanya sampai 70 tahun, maka umurku tahun ini adalah 30 tahun.  Tahun depan 29 tahun...tahun depannya lagi 28 tahun ....dst....dst....!  Secara fisik pasti akan ada banyak perubahan.  Wajah peot....rambut beruban....gigi ompong....dsb.....!  Tetapi secara mental dan spiritual aku berharap lebih.  Berharap bahwa dalam umur tersisa, aku telah melakukan sesuatu.  Sesuatu yang akan mempengaruhi kualitas hidupku sebagai seorang manusia yang bahagia dengan pilihan hidupnya.

Seandainya Tuhan tidak memberi aku kesempatan hingga 70 tahun, minimal aku tahu, bahwa segala sesuatu yang telah kupilih, kuimani, kujalani, tidak akan pernah sia2.  I'm happy now.  Aku siap untuk "pulang" kapanpun Tuhan memanggilku, karena seperti St. Paulus, aku tahu kepada siapa aku percaya.
11 Januari 2011 0 komentar

Welcome 2011

Melewati beberapa hari di tahun 2011, terasa ada yang beda. Tiba-tiba saja tersadari bahwa si sulung Pilar, di usianya yang sepuluh tahun sudah setinggi diriku dan adiknya Altar sudah bisa mengeja huruf "R" dengan lancar.  Si bungsu Lunar yang biasanya ngompol berkali-kali, beberapa hari ini sudah mulai mengurangi intensitas ompolnya karena kubilang anak yang masih ngompol tidak boleh bersekolah.  Baru tersadar juga bahwa tahun ini aku mulai memasuki usia kepala empat.....:))

Mumpung anak2 sudah bisa diajak "berdiskusi" dan mengeluarkan pendapat, dan suamiku sudah bisa beradaptasi dengan tempat kerjanya yang baru, maka aku sepakat dengan diri sendiri untuk membuat beberapa perubahan di tahun ini :

1.  Melakukan rekonsiliasi
Aku sadar, beberapa tahun terakhir ini hubunganku dengan Tuhan tidak terlalu baik.  Aku banyak membuang-buang waktu dan menghindar dalam berbagai kesempatan untuk lebih mendekatkan diri padaNya.  Intensitas doaku jarang-jarang.  Kualitasnya pun terasa hambar dan kering kerontang.  Membaca Kitab Suci aku enggan.  Mendaraskan ibadat harian apalagi.  Setiap kucoba, pikiranku selalu melayang tak tentu arah.  Aku kehilangan rasa! 

Memasuki tahun ini aku ingin memperbaiki segalanya dari awal.  Mulai menjalin relasi yang baik dengan Tuhan.  Mulai menyunggingkan senyum dalam doa.  Memulai kembali persahabatan kami yang sempat putus karena aku selalu berusaha menghindariNya.
   
2. Terlibat dalam kegiatan Gereja
Meskipun teori lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan, minimal aku akan berusaha untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan gereja lagi.  Ya, paling tidak aku bisa melibatkan diri lagi dalam kegiatan komunitas.  Sekalian mengajarkan kepada anak2, bahwa menjadi umat beriman, berarti harus berani menjadi garam dan terang dunia.  Bagaimana mungkin mereka akan menjadi tulang punggung Gereja, jika tidak diperkenalkan dari awal?

("Jadi Bunda, ayo.....jangan ngeles2 lagi ya kalau diminta jadi dirigen!")

3.  Terlibat dalam pendidikan anak-anak
Meskipun klise, tapi bagiku janji seorang ibu tetaplah sebuah pengejawantahan diri yang mau tidak mau harus dilaksanakan.  Memantau perkembangan diri anak2 adalah tanggungjawab semua orangtua.  Mau jadi apa anak kita kelak, itu semua tergantung bagaimana orangtua mengarahkannya.

Awal tahun ini, setelah menjalani 6 bulan masa sekolah yang membosankan, Altar kuliburkan.  Harapan supaya dia mendapatkan pengajaran untuk anak TK A sesuai dengan umurnya tidak kesampaian.  Ternyata sekolahnya hanya menyediakan tempat untuk TK B.  Jadi anak2 TK A digabung dengan TK B.  Tidak banyak waktu untuk bermain dan melakukan pengenalan.  Yang ada tiap hari dijejali dengan berbagai macam PR yang tidak pernah ada habisnya.  Anak lanangku memang bisa menulis, tapi setiap ditanya artinya dia hanya cengar-cengir doang.  Yang aku heran adalah, si Ibu Guru saja tulisannya kayak cakar ayam, bagaimana dia bisa mengajarkan menulis atau membaca dengan benar?

Sebagai konsekuensinya, Altar kuajar sendiri.  Aku rajin hunting buku2 pelajaran untuk anak TK A.  Setiap sore sepulang kerja, kuajak anak2 mematikan TV dan mulai belajar.  Lumayan juga, sekalian mengajar Altar si bontot Lunar bisa ikutan belajar.  Tidak perlu PR, tidak perlu ujian.  Yang perlu adalah, bagaimana caranya mempelajari sesuatu dalam suasana nyaman dan menyenangkan.  Hasilnya, perlahan tapi pasti mereka sudah mulai bisa menghafal huruf2 dan angka2 yang kutunjukkan.

Selagi aku mengajari adik2nya, Pilar bisa mengerjakan PRnya dengan tenang.  Sesekali aku tetap harus siap jadi mentor jika ia menemukan kesulitan.  Padahal kalau dipikir-pikir, pelajaran jaman sekarang beda jauuuh dengan jaman aku dulu.  Jadi mau nggak mau ya emang harus ikutan belajar lagi si emak ini....!

4.  Penghematan di segala bidang
Melihat pertumbuhan anak2 yang makin pesat membuatku harus ekstra keras menabung untuk masa depan mereka.  Jadi, berhemat merupakan hal yang sangat penting untuk segera dilaksanakan. 

-  Jika biasanya setiap istirahat Jumat bisa pergi ke mall dan membeli barang2 yang belum tentu berguna, maka tahun ini harus agak dikurangi dan kalau perlu dihilangkan sama sekali.  Mungkin bisa digantikan dengan ngapdet blog setiap istirahat hari Jumat.  Lumayan, selain bisa menyalurkan ide supaya tidak jadi bisul, catatan di blog bisa jadi menginspirasi orang lain tentang masalah yang sama.

-  Jika biasanya pesen catring untuk makan, tahun ini sebisa mungkin mulai masak sendiri.  Lumayan, dengan sedikit kreatifitas, toh pengeluaran yang diperlukan untuk urusan perut ini bisa dikurangi.  Meskipun tidak banyak jumlahnya, tapi lumayan besar juga perbandingannya jika harus beli makanan jadi setiap hari.

-  Jika biasanya ngemil dan jajan setiap pagi, minimal porsinya agak dikurangi atau dihilangkan sama sekali.  Selain bisa membantu mengecilkan pinggang juga bisa membantu program penghematan.  Uang saku yang tidak terpakai hari itu masuk ke saving box.  Kalau sudah banyak baru dipindahkan ke tabungan.

-  Mulai mengampanyekan gerakan hemat listrik dan hemat air di rumah.  Rajin mematikan peralatan elektronik yang tidak terpakai dan mematikan lampu sebelum tidur.  Memang agak susah karena anak2 terbiasa melihat kami orangtuanya suka pikun dalam memberikan teladan.  Meskipun susah, paling tidak ada kemauan untuk berubah, bukan?

Kurasa itu dulu resolusiku di tahun 2011. Nggak muluk2.  Yang penting ada niat untuk melaksanakannya.  Kalau tidak dimulai sekarang kapan lagi?  Waktu tidak akan bisa diputar ulang.  Pergunakan kesempatan yang ada sekarang sebaik-baiknya.

Yes!  Semangat...!  Semangat.....! 

Welcome 2011
04 Desember 2010 0 komentar

Advent

Sama seperti tahun2 sebelumnya Natal selalu menimbulkan sensasi luar biasa.  Tidak saja udara yang menghamburkan aroma surga, tapi munculnya satu kerinduan untuk menjadi manusia yang lebih baik di hari itu.  Yang paling mengharukan adalah adanya kesempatan 4 minggu sebelum Natal untuk mempersiapkan diri.  Masa Advent!  Saat paling menentukan dalam menyambut kedatangan Tuhan.  Saat untuk lebih fokus daam memperbaharui sikap batin dan rohani kita.

Itulah sebabnya Gereja Katolik masih tenang2 saja merayakan masa Advent pada saat gereja2 lain sudah sibuk merayakan Natal  jauh2 hari sebelumnya.  Gereja Katolik sungguh2 ingin menuntun umat pada suatu pemahaman sejati tentang persiapan menyambut kedatangan Sang Juru Selamat. Intinya Natal bukan hanya menjadi ajang perayaan yang identik dengan pesta pora dan seremonial belaka.  Menjadi ajang pesta yang sebentar dilakukan dengan sukacita namun dengan cepat dilupakan karena ternyata dari tahun. ke tahun toh sama saja.  

Bagiku Advent menjadi suatu permenungan rohani yang menakjubkan karena di dalam setiap tahapannya  ada suatu pembelajaran hidup yang bisa dipakai sebagai pedoman dalam menyambut kedatangan Tuhan.  Menjadi suatu kesempatan untuk mempersiapkan diri menyambut Sang Juru Selamat meskipun manusia banyak berlumur dosa.  Menjadi kesempatan untuk tidak menjadi manusia yang "lupa" akan makna Natal yang sesungguhnya.  

Jika Yesus Sang Juru Selamat lahir di kandang hewan, serba sederhana dan penuh dengan permenungan, mengapa harus sibuk merayakan natal dengan penuh kemewahan dan pesta pora bahkan kalau perlu diadakan di hotel2 berbintang?  Setelah itu...what's up?  Jika Natal dirayakan jauh 2 hari sebelumnya apakah Yesus tidak menjadi bayi prematur nantinya?  Setelah itu...apa yang akan dirayakan pada hari H-nya?

Aku berharap Natal kali ini tetap mengalirkan irama yang sesungguhnya.  Irama kesederhanaan, irama cinta kasih, irama berbagi, irama berempati dan irama pengampunan.  Sesungguhnya Yesus tidak lahir di tengah hiruk pikuk pesta apalagi di kasur empuk hotel berbintang.  Yesus sudah memiih tempatNya sendiri.  Ia memilih untuk lahir di dalam hati setiap umat manusia yang merindukanNya.
Selamat menjalani masa Advent......!

22 September 2010 0 komentar

Review Buku : Surat Cinta Buat Gembala

Beberapa hari ini aku sibuk membaca sebuah buku, yang jujur saja, menurutku sangat indah.  Indah bukan karena kata-katanya yang serba puitis dan mengharubiru, melainkan karena isinya yang begitu menyentuh jiwa.  Sebagai salah satu bagian dari domba, yang notabene banyak mengalami relasi  indah dengan gembalanya, aku bisa merasakan chemistry yang ingin disampaikan oleh para sahabat dalam buku ini.

Pengalaman-pengalaman dalam buku ini sangat menarik.  Pengalaman sehari-hari yang bisa dialami oleh siapa saja.  Bagiku, buku ini sungguh merupakan perwujudan cinta yang tulus dari para domba untuk gembalanya.  Ia tidak hanya bicara tentang cinta.  Ia juga bicara tentang kejujuran.  Kejujuran adalah sifat yang sangat langkah di jaman modern sekarang ini.  Tapi aku melihatnya disampaikan dengan sangat manis dan gamblang tanpa mesti ada yang merasa terluka.

Terimakasihku untuk ide-ide brilian para sahabat dunia maya yang telah bekerja keras dalam mewujudkan harapan dan keinginan menjadi satu kenyataan yang terwujud dalam bentuk sebuah buku. Buku berisi cinta yang tulus dari para domba kepada gembalanya.  Buku berisi relasi  manis dan terkadang pahit antara domba dan gembalanya.  Buku berisi doa dan harapan dari para domba semoga para gembala mampu bertahan.

Thanks untuk Tim POLAR (Panjikristo, Lini, Anang, dan Rini Giri).  Kalian adalah tim yang hebat!  Di saat banyak domba kebingungan memikirkan hubungannya dengan para gembala, kalian telah membuka jalan bagaimana cara mengekspresikannya.  Tuhan memberkati kalian semua!

Bagi rekan-rekan yang berminat untuk membaca dan membeli, silahkan hubungi Lini di http://www.yuknulis.com/ atau Rini Giri di http://rinigiri.blogspot.com/ atau kenalan dulu dengan mereka di Facebook.

Sejatinya buku ini patut dibaca oleh para domba supaya ke depannya lebih bisa mendoakan yang terbaik bagi para gembala.

Salam damai,
24 Juli 2010 0 komentar

Kaum Muda dan Semangat Menggereja

Sebagai orang yang pernah muda dan menjadi bagian dari Muda Mudi Katolik (Mudika) maupun Karyawan Muda Katolik (KKMK), aku sungguh prihatin dengan dinamika kehidupan menggereja kaum muda sekarang ini.  Bahkan  sering dibikin "gemas" dengan tingkah pola sebagian besar dari mereka yang kurang percaya diri dalam memperlihatkan jati diri  sebagai bagian dari Gereja Kristus sendiri.

Bukan hal aneh lagi jika dikatakan bahwa mayoritas Gereja Katolik  sekarang ini "kering" dengan orang-orang muda yang berkualitas dan berkomitmen tinggi dalam mengimplementasikan keyakinan imannya.  Yang terlihat hanyalah sekumpulan orang muda yang punya kemauan tinggi tapi miskin keberanian untuk menunjukkan kemampuan dan talenta yang dimilikinya.  Jika ditantang melakukan sesuatu jawabnya sudah bisa ditebak : tidak bisa!  Tidak bisa dan tidak mau tak ada bedanya.  Dua2nya sama2 memperlihatkan bahwa mereka hanya mau duduk diam dan menjadi pendengar.  Bukan pelaku!  Itu sebabnya gereja lebih banyak dipenuhi oleh orang tua dari pada kaum muda.

Kurasa hal ini patut menjadi perhatian para petinggi gereja.  Jika kaum muda merupakan tiang dan pondasi Gereja, mengapa mereka lebih suka "ngumpet" dan alergi terhadap kehidupan menggereja?  Mengapa mereka lebih suka dengan acara2 gereja yang hingar bingar dan menjanjikan kesenangan sesaat daripada melakukan kegiatan yang  membawa manfaat selamanya?  Hal-hal apa yang perlu dilakukan untuk bisa  menumbuhkan kecintaan dan keyakinan mereka akan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik?

Suatu hari aku bertanya kepada seorang muda Katolik, tentang perasaannya selesai mengikuti misa pagi.  Jawabnya pendek saja :  "Tidak ada!  Yang ada hanyalah rasa bosan karena harus mengikuti rutinitas yang itu2 saja.  Masih mending di gereja lain.  Suasana ibadatnya lebih meriah dan menggembirakan hati".

Aku terpekur.  Bisa jadi sebagian besar OMK berpikir seperti itu.  Misa hanya dianggap sebagai suatu rutinitas.  Intinya ia tidak menemukan apa2 di sana.  Padahal bagi orang Katolik, misa menjadi bagian yang sangat penting, karena di dalamnya bisa bertatap muka dengan Kristus sendiri.  Bisa bersatu dengan Kristus sendiri dan bisa menjadikanNya sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi hidup sehari-hari.  Kekuatan inilah yang seringkali menjadi "senjata" untuk berani dan mau melakukan banyak hal bagi tumbuh kembang Gereja.

Jika aku masih muda dan ditanya bagaimana caraku untuk bisa terlibat dalam kegiatan menggereja, maka bisa jadi tips2 berikut ini bisa membantu :

Pertama :
Sebisa mungkin sempatkanlah ikut misa.  Minimal seminggu satu kali.  Persatuan dengan Yesus akan menjadi kekuatan yang mengagumkan dalam menjalani aktifitas sehari-hari.  Dengan meningkatkan frekuensi pertemuan dengan Yesus otomatis rasa cinta akan GerejaNya akan bertumbuh dan berkembang tanpa disadari.  Berdoa saja tidak cukup.  Yesus sendiri yang mengatakan jika ada lebih dari dua orang berkumpul atas namaNya, Dia ada di tengah-tengah mereka.  Bersekutulah dengan umat lainnya dalam misa kudus.

Kedua :
Jangan sok jaim dan malu2 bertanya kegiatan apa saja yang bisa diikuti di gereja.  Selain misa yang memang diwajibkan oleh Gereja, pasti ada banyak kegiatan yang bisa diikuti di Gereja.  Bisa Legio Maria, THS/THM, Mudika, KKMK, Misdinar, dll.  Tanyakan pada orang yang memang tahu akan adanya kegiatan tersebut.  Jangan bertanya pada orang yang tidak tahu atau orang yang tahu tapi tidak mau tahu.  Sesudah itu bergabunglah!  Jangan menunggu jatuhnya ilham dari langit atau nunggu  di"kejar2" pastor baru ikutan.  Be active!  Sekalian boleh berharap, siapa tahu ketemu jodoh di gereja.

Ketiga :
Jangan takut dicap "sok suci" dan "belagu".  Mereka yang mencap demikian biasanya adalah orang2 iri hati dan sebenarnya pengin gabung tapi malu akibat ke"ember"an mulut mereka.  Mereka berusaha menutupi kekurangan mereka  dengan berlaku sirik dan mencari-cari kejelekan orang lain.  Jika bertemu orang2 modelan demikian jangan takut.  Maju terus pantang mundur!

Keempat :
Beranilah untuk mengeluarkan uneg2 biarpun itu menyakitkan.  Uneg2 yang dipendam bisa menimbulkan jerawat dan tak jarang membuat bisulan.  Jika meletus sakitnya bukan kepalang.  Bicarakan dan diskusikan dengan orang yang berkompeten di dalam Gereja apakah ide2 cemerlang untuk memajukan kaum muda terhambat/ terganjal dengan aturan2 dalam Gereja atau tidak.  Jika alasan penolakan itu jelas ya jangan ngambek.  Resiko beragama Katolik adalah mesti mau mematuhi peraturan yang ada di dalamnya.  Cobalah dengan ide2 yang lain.  Siapa tahu ide yang baru lebih bisa diterima oleh semuanya.

Kelima :
Banyak2lah menambah ilmu tentang kekatolikan.  Beriman boleh2 saja.  Tapi beriman dengan dasar2 yg "sahih" akan lebih bagus lagi.  Tidak hanya berdasarkan kata si Ini atau si Anu.  Banyak2lah membaca dari berbagai sumber.  Jangan hanya percaya satu sumber saja.  Menjadi Katolik itu susah.  Banyak tantangannya.  Banyak halangannya.  Tidak bisa mengharapkan bantuan dari orangtua saja.  Atau pastor paroki saja.  Atau para biarawan biarawati saja.  Semua tergantung diri sendiri untuk mulai menambah-nambah ilmu.  Referensinya banyak kok.  Di toko buku, di internet, di perpustakaan seminari (yg punya kenalan orang seminari), di pastoran, di kehidupan.  Intinya jangan malas untuk BELAJAR.

Keenam :
Jangan malas berdoa!  Semakin sering menjalin komunikasi yang baik dengan Tuhan, hidup akan semakin dikuatkan.  Ingat, satu2nya yang tidak akan kabur di saat kita susah atau senang adalah Tuhan.  Relasi yang baik dengan Tuhan akan memperlancar semua harapan.

Tips di atas adalah sekedar pandangan dari seorang yang pernah muda sepertiku.  Bisa jadi tidak semuanya benar meskipun mayoritas "menyatakan" demikian.  Jika jamanku dulu selalu dan senantiasa ada "orang2 pilihan" dalam Gereja yang bisa dijadikan panutan, kurasa tidak ada yang salah jika kaum muda sekarang ini pun menuntut demikian.   Perlu orang2 dengan kapabilitas mengagumkan yang bisa dijadikan contoh dalam Gereja.  Entah itu pastor parokinya, entah itu para fraternya, susternya, diakonnya, dewan parokinya, bahkan para orangtuanya.

Jadilah teladan untuk kaum muda dan akan menjadi demikian adanya mereka!
21 Juli 2010 0 komentar

Perihal Bersedekah

Salah satu pengajaran Yesus dalam KS yang kusenangi adalah kisah tentang seorang janda miskin yang mempersembahkan seluruh hartanya kepada Tuhan.  Di sana diperlihatkan bagaimana si janda miskin dengan sepenuh hati dan penuh keyakinan memberikan seluruh miliknya tanpa pikir panjang.  Poin yang bisa kudapat adalah tentang "kerelaan" dalam memberi dan "keyakinan" mendalam akan penyelenggaraan Tuhan bahwa semuanya akan "baik-baik" saja.

Sebagai manusia normal, aku belumlah sehebat janda miskin seperti dalam kisah di atas.  Aku seringkali masih harus berpikir ribuan kali sebelum memberi sedekah kepada orang lain.  Masih sibuk memilah-milah mana yang perlu dan mana yang tidak.

Bagaimana ya, cukup atau tidak jika kusedekahkan sebagian dari penghasilanku bulan ini?  Bagaimana ya, bisa atau tidak  aku memberi dari penghasilanku yang pas-pasan ini?  Perlu atau tidak ya si A dibantu sekarang ini?  Ah, lebih baik tunggu saja dulu.  Siapa tahu ada rejeki berlebih nanti.

Seperti itulah kira2 yang sering terjadi.  Aku cenderung memberi hanya pada saat berlebih.  Bukan pada saat memang ingin memberi.  Apalagi pada saat berkekurangan.  Aku masih memakai prinsip "itung-itung"an dalam hal ini.  Belum bisa total dan ikhlas.  Masih memikirkan untung rugi.  Seharusnya bersedekah ya bersedekah saja.  Memberi ya memberi saja.  Tidak perlu berpikir tentang bagaimana akibatnya nanti.  Tidak perlu mencemaskan hal2 yang akan terjadi nanti. 

Ada 2 hal mendasar yang dimiliki oleh janda miskin di atas, yang belum tentu aku miliki.  Kerelaan dan keyakinan.  Keduanya saling terkait satu sama lain.  Janda itu rela tidak makan dengan mempersembahkan seluruh miliknya.  Untuk Tuhan.  Untuk sesama.  Rela.  Itulah intinya.  Mengapa dia begitu saja merelakan harta satu2nya?  Karena dia memiliki keyakinan yang teguh dan kuat.  Keyakinan bahwa Tuhan tetap akan memeliharanya, tetap akan menjaganya, meskipun ia tidak punya apa-apa.  Beriman.  Janda itu memiliki iman.

Banyak orang yang percaya tapi tidak banyak orang yang beriman.  Percaya kepada Yesus belum tentu yakin kepadaNya.

Bisa jadi aku masih perlu belajar banyak kepada Yesus tentang bagaimana harus "memberi".  Butuh proses yang panjang untuk bisa mencapai kesempurnaan hidup dan mampu memahami tentang arti kata "memberi tanpa pamrih".  Seperti biasa, hal itu tidak mudah.  Lebih  mudah berkata-kata daripada mempraktekkannya.  Hanya saja jika tidak dimulai dari sekarang untuk berani belajar, kapan lagi aku akan belajar?  Selagi ada waktu, lakukan saja apa yang sekiranya perlu untuk dilakukan. 

Mungkin aku bisa mulai dari rumah.  Memberikan sebagian waktuku untuk keluarga.  Menemani anak2 belajar dan berusaha membantu pada saat mereka memerlukan aku.  Bisa mulai dari hidup menggereja.  Memberikan  sebagian waktuku untuk doa komunitas  dan menyisihkan sebagian kecil dari penghasilanku untuk para seminaris serta tumbuh kembang gereja.  Bisa mulai dari tempat kerja. Menjadi donatur tetap untuk kelangsungan sekolah anak salah satu karyawan.  Bisa dari manapun juga.

Apakah aku akan dicukupkan nantinya?  Hanya Tuhan yang tahu.  Yang pasti hingga saat ini, aku merasa masih bisa memberi dari kekuranganku, meskipun baru sedikit jumlahnya.  Siapa tahu ke depannya akan lebih banyak waktu dan materi yang bisa kupersembahkan untuk Tuhan dan sesama.
 
;