Belajar Mengenal Dia

16 Juni 2019
Semakin bertambah umur, saya merasa iman saya semakin tipis seperti lembaran plastik folder yang biasa saya pakai untuk tempat menaruh partitur nyanyian koor.  Seharusnya, menurut teori, semakin bertambah umur seharusnya saya semakin kuat, teguh, kukuh berlapis baja dalam beriman.  Ini malah sebaliknya.  Hidup doa saya yang dahulu begitu indah, sekarang terasa begitu kering seperti ranting pohon di padang gurun yang tak pernah tersentuh air.

Apakah saya termasuk orang yang salah asuhan?  Atau salah pengajaran?  Saya rasa tidak!  Dalam setiap permenungan saya merasa bahwa selama ini saya terlalu tinggi hati dalam beriman.  Saya merasa bahwa dengan hidup serba relijius, saya menjadi semakin dekat dengan Tuhan.  Tapi ternyata tidak demikian.  Kehidupan relijius tanpa mau memandang ke kedalaman hati yang paling dalam adalah kesia-siaan belaka.  Ketika saya merasa semakin relijius, saya malah sering lupa di mana saya berada.  Hati saya hampa.  Saya menjadi mati rasa.  Saya lupa bahwa saya hidup di dunia bersama dengan manusia lainnya.  Sesamaku manusia.

Dan saya teringat sabda Yesus berikut ini," Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!"

Dari situ saya mulai berkaca pada diri sendiri.  Betulkah saya bisa mengasihi sesamaku manusia?  Sesama di sekitarku, apa pun adanya mereka adalah manusia.  Suamiku.  Anak-anakku.  Tetanggaku.  Teman kerjaku.  Keluargaku di kampung.  Kenalanku.  Mereka semua adalah sesamaku manusia.  Apakah aku dengan mudah bisa mengasihi mereka?  Bukankah kata maafku selalu tersendat setiap kali hatiku tersakiti oleh perbuatan mereka?  Jika mengasihi sesama yang kukenal saja terasa begitu susah, bagaimana dengan "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi orang yang menganiaya kamu?"

Ternyata beriman saja tidak cukup.  Harus ada bukti nyata.  Harus ada perbuatan yang menunjukkan bahwa saya sungguh beriman.  Itu sebabnya imanku terasa garing.  Ketika cinta kasih harus memilah dan memilih kepada siapa ia harus diberikan, iman akan terasa hanya menjadi seperti beban.  Seharusnya mengasihi tidak boleh pilih-pilih.  Mengasihi ya mengasihi saja.  Tidak perlu bertanya apa sukunya, apa golongannya, apalagi apa agamanya.  Jika kasih hanya dibagikan kepada orang tertentu saja, maka akan hampalah hatimu dan imanmu menjadi ciut.  Ciut mengkerut dan perlahan akan layu sebelum berkembang.

Jujur saja, saya perlu belajar lagi tentang beriman yang benar.  Supaya hidup doa saya kembali sejuk dan menguatkan.  Bisa jadi saya perlu mengurangi interaksi saya di dunia maya dan kembali hidup di dunia nyata.  Bersama sesama manusia yang betul-betul hidup di sekitar saya.  Di keluarga.  Di kampung tempat saya tinggal.  Di tempat saya kerja.  Di komunitas dan lingkungan gereja.  Di manapun saya berada. Berinteraksi artinya adalah, siap mengenal Dia dalam wujud sesama manusia dan bertindak sesuai dengan yang dikehendakiNya, yaitu: MENGASIHI.

Tidak Ada Judul

03 Juni 2017
Jadi ingat, Pak Suami pernah bercerita tentang pengalamannya mengantar beberapa emak-emak yang bertugas untuk mengurusi keperluan gereja.  Seperti biasa, yang namanya emak-emak itu kalau sudah terdiri lebih dari satu orang, pasti "bising" dan isinya cenderung ngomongin orang lain.  Dan memang demikianlah adanya.  Dari acara ngomong ringan tentang urusan pelayanan, makin lama makin melebar ngomongin hal-hal yang nggak penting.  Pada dasarnya tentu saja, membandingkan situasi paroki yang lama dan yang baru.

"Jadi poinnya apa?" saya bertanya.

"Poinnya adalah, orang-orang ini tidak pantas menjadi orang yang mengaku-aku menjadi pelayan gereja.  Mereka membicarakn kepengurusan yang dulu begini dan begitu, tapi dari omongannya mereka juga tidak lebih baik dari yang mereka omongkan!  Nyinyir full kesimpulannya!"

Refleks saya terkekeh. Pak Suami ikut terkekeh.  Lucu saja membayangkan lagak dan laku orang-orang yang disebutkannya tadi.  Orang-orang yang merasa selalu lebih hebat dan lebih baik dari yang lain.  Ujung-ujungnya terus memberikan penghakiman.  Memberikan penilaian sepihak.  Selalu berprasangka buruk terhadap orang lain.  Merasa di pihak yang benar dan yang lain berada di pihak yang salah.

"Coba bayangkan, masa suster pun ikut-ikutan ngomongin orang?!  Ikut-ikutan nyinyir.  Aduh, heran deh!  Ada saja yang jadi bahan omongan!  Kesannya itu mereka tidak siap jadi orang 'penting' di gereja.  Semua yang nggak seide digunjingin"

Saya tambah ngakak.  Menurut saya yang umat biasa-biasa saja ini, terlepas dari anggapan bahwa kepengurusan yang lama begini atau begitu, kalau kepengurusan yang sekarang memposisikan diri sebagai orang yang lebih baik atau hebat dari sebelumnya itu artinya beda-beda tipis saja.  Bagaimanapun, bekerja untuk gereja itu haruslah karena cinta. Cinta kepada Tuhan, bukan cinta kepada romo paroki.  Jika  pelayanan didasarkan karena cinta kepada Tuhan, maka siapa pun yang menjadi romo parokinya tidak akan ada yang namanya 'nggunjingin' satu sama lain.  Tidak akan ada yang galau -menggalau jika sang romo dipindahtugaskan.

Dari dulu, saya adalah orang yang netral.  Saya tidak berusaha memihak sana atau sini.  Lha ini gereja loh. Masak harus ada 'geng-gengan' sana atau sini.  Melayani, menjadi pelayan, itu harusnya ya memang dari hati.  Kalau mau ya ayok....kalau nggak mau ya jangan dipaksa.  Biarkan rasa cinta kepada Tuhan itulah yang menumbuhkembangkan iman.  Jika karena cinta, maka diminta'in' tolong apa saja pasti OK saja. Gitu saja kok repot.  Jadi nggak perlu repot-repot juga membanding-bandingkan yang dulu dan sekarang.

Ayolah....bangun dong......nggak perlu saling menjelek-jelekkan lagi.  Ntar yang jelek jadi tambah jelek loh.  Harusnya semua saling bekerjasama, bahu membahu untuk kepentingan gereja, bukan untuk kepentingan kelompok atau orang per orang.  Semua kita adalah anggota keluarga! 

Salib di Gereja Paroki

24 April 2017
"Bun, mengapa salib di gereja kita begitu aneh?  Mengapa tidak berbentuk seperti salib yang seharusnya?" seorang teman bertanya, dengan berbisik-bisik tentunya.

Waduh, aku, jujur saja tidak tahu bagaimana cara menjawabnya.  Dulu sih setahuku, pernah disinggung artinya oleh romo Paroki yang lama.  Tapi karena tidak banyak sosialisasi, akhirnya banyak juga umat yang bertanya, meskipun dalam hati tentu saja.  Dan umat seperti aku ini, yang sukanya setengah-setengah mendengarkan kotbah, tentu saja sudah lupa dengan penjelasannya.  Hanya saja sejak pertanyaan itu, aku jadi terobsesi untuk memandang salib yang dipertanyakan, setiap mengikuti perayaan ekaristi di paroki.  Mosok sih salib sebesar itu tidak ada artinya? 

Aku memandang Dia.  Yesus yang tersalib itu, mengapa hanya satu tangan yang dipaku?  Tangan kanannya masih  menjuntai, seolah menunjuk kepadaku dan kepada umat lainnya.  

"Yesus yang baik, apakah Kau marah padaku? Tangan kananMu seolah-olah menuduh aku, bahwa akulah yang telah menyalibkanMu. Apakah betul demikian, Tuhan?  Jika Engkau marah, lalu mengapa wajahMu tidak mampu melukiskannya? Engkau seolah malah mendoakan aku. Tolong katakan padaku, apakah arti tanganMu yang menjuntai itu? Sungguh aku sudah lupa."

Ah, pertanyaan tentang salib yang aneh itu tiba-tiba saja sering mengusik hari-hariku.   Setiap misa, di depan altar, aku selalu memandang Dia yang disalib.  MemandangNya dengan hati yang tiba-tiba terasa perih.  Selalu begitu.  Memandang salib, otomatis akan memandang ikon Bunda Maria yang tersenyum bening dengan Yesus kecil di gendongan tangannya.  Memandang semua itu sering membawaku pada satu rasa, bagaimana mungkin Sang Bunda bisa begitu kuat dan tegar melihat derita puteranya?

"Bagaimana?  Sudah tahu belum apa artinya salib aneh di paroki kita?" teman yang sama bertanya ketika ada pertemuan doa.  Rupa-rupanya dia masih penasaran dengan keberadaan salib itu.

"Hahaha...masih panasaran ya, dirimu?  Jawabannya.....nggak tahu!  Tapi sedikit banyak aku mulai ingat.  Kalau kurang pas, tanya sendiri sama Romo yang dulu ya?"

Ganti temanku yang terkekeh.  Ia menarikku ke tepi dan terlihat tidak sabar menunggu jawaban.  

"Jadi begini loh ya, tangan Yesus yang disalib satu dan satu masih menjuntai, itu bukan karena pemahatnya lupa untuk membuatnya terpaku di kayu salib.  Ada filosofinya.  Yesus, Sang Maestro Cinta itu, masih ingat untuk mendoakan orang-orang yang menyalibkanNya.  Ia, sebelum wafatNya di salib, meminta pengampunan dari Bapa untuk semua orang yang menyalibkanNya.  Dan mereka yang menyalibkan Dia, bisa jadi itu adalah kita."

Suasana tiba-tiba menjadi hening.  Teman saya itu, dengan kata O yang panjang, hanya mampu mengangguk-angguk, "Ooooo.......begitu ya??"

Dan tiba-tiba ingatanku mengembara pada suatu tempat, di mana Ia disalibkan tanpa kedua belah tangan. Setiap kali memandangNya, Ia seolah memberikan perintah padaku, untuk menjadi pengganti kedua tanganNya di dunia.  Menjadi kepanjangan kedua belah tanganNya, untuk membantu dan menolong mereka yang membutuhkan.  Jadi, salib yang aneh di paroki ini, bisa jadi tidak lebih aneh dibandingkan di tempat lain.  Karena bagian terpentingnya adalah, Dia yang disalibkan di atasnya.  

Salib, pada intinya adalah keberanian untuk berkorban.  Salib adalah lambang penderitaan sekaligus kegembiraan.  Di sanalah kita mengimani Dia yang wafat di salib dan kemudian bangkit dari antara orang mati.  Tanpa salib tidak akan pernah ada kebangkitan. 

Tomas yang Ngeyelan

Di antara 11 murid, setelah dikurangi Yudas Iskariot, mungkin hanya Tomas Didimus yang ngeyelan.  Meskipun diyakinkan oleh para murid yang lain, dia tetap kukuh bahwa Yesus tidak mungkin bangkit dari kematian.  "Bagaimana mungkin orang yang sudah mati bisa bangkit lagi?"  Tomas berpikir bahwa murid-murid yang lain sedang terobsesi akan kebangkitan Yesus dan bisa jadi pula sedang berhalusinasi karena baru ditinggalkan olehNya.  Apapun penjelasan para murid, ia tetap tidak percaya.

Si Tomas yang ngeyelan ini,  bahkan nantangin murid yang lain dengan berkata,"Sebelum aku melihat bekas paku pada tanganNya dan sebelum mencucukkan jariku ke dalam lambungNya, sekali-kali aku tidak akan percaya."  Tomas baru percaya setelah Yesus menampakkan diri kepadanya.  Saya rasa pada saat mengatakan "Ya Tuhanku dan Allahku" ia sudah terlanjur malu hati.  Ternyata Yesus sudah lebih dahulu tahu sampai di mana kadar kepercayaannya akan Dia.

Saat masih kanak-kanak,  saya merasa bahwa iman saya begitu besar.  Dalam setiap doa yang saya pelajari, saya doakan, saya selalu mencoba untuk memahami dan  'masuk' di dalamnya.  Saya selalu percaya bahwa Yesus, seperti yang diberitakan dalam Kitab Suci, Dia sungguh-sungguh ada.  Saya tidak seperti Tomas, yang mau percaya setelah melihat Dia.  Dengan kepercayaan yang sungguh luar biasa itu, saya merasa hidup selalu disegarkan dan terlihat begitu indah. 

Seiring berjalannya waktu, kepercayaan itu seperti timbul tenggelam.  Kadang seperti perahu yang hilang arah, terombang-ambing di tengah lautan.  Seperti bintang-bintang di langit yang terkadang terang dan sekali-kali terlihat meredup. Semakin dewasa semakin banyak pertanyaan, seperti Tomas.  Begitu banyak jalan berliku yang harus ditempuh.  Iman yang dulu begitu saja saya percayai, mulai meminta pembuktian.  Dan terlalu banyak pertanyaan membuat saya gamang.  Akankah saya seperti Tomas, Tuhan?

Seperti orang gila saya membaca banyak buku, belajar banyak hal.  Ikut berbagai macam milis diskusi dan belajar lagi dari pemikiran-pemikiran banyak orang.  Otak saya yang kecil saya paksa untuk menelaah dan menalar.  Semua kegiatan gereja saya ikuti.  Kehidupan para relijius pun saya pelajari.  Saya merasa, bahwa percaya saja tidak cukup.  Saya perlu mencari tahu, perlu mengalami Dia dalam hidup ini, bukan hanya sekedar percaya.

Setiap perjalanan hidup, bagi saya adalah pembelajaran.  Pembelajaran bagaimana saya bisa melihat Dia dalam setiap nafas hidup, tanpa perlu melihatNya secara fisik.  Menjalani hidup bersama orang lain, memperlakukan dunia dan segala isinya seperti yang Dia ajarkan, sebenarnya adalah sama seperti memandang Dia sendiri.  Ketika saya mengaku beriman tanpa mampu memancarkan kasih yang sudah Ia ajarkan, itu sama seperti tong kosong nyaring bunyinya.  Ia hanya bisa ditemukan dalam diri orang-orang yang sungguh nyata membagikan cinta.

Saya, belajar dari Tomas, akan terus bertanya dan mencari.  Saya, juga belajar dari Yesus Sang Guru, akan selalu memaafkan, meskipun punya murid yang tidak gampang percaya seperti Tomas.  Yesus tidak pernah marah. Ia hanya mau, Tomas, dan tentu juga saya, untuk tidak sekedar bertanya, melainkan MELIHAT.  Melihat Yesus yang hadir dalam diri setiap orang yang berbelas kasih.  Melihat bekas paku di tanganNya dan luka-luka di lambungNya, dalam diri setiap orang yang membutuhkan.  Ia hanya ingin, kita menjadi manusia-manusia yang mampu berbelas kasih seperti Dia.  Dan Yesus sudah membuktikannya, dengan kematian dan kebangkitanNya.

*ngeyelan (Bahasa Jawa: suka membantah, suka berargumentasi dan tidak gampang percaya)

Unek-unek di Bulan April

22 April 2017
Ketika diminta untuk menjadi pendamping misdinar, aku sebenarnya ragu.  Bisa atau tidak ya?  Selain takut tidak ada waktu, aku juga sudah lupa bagaimana rasanya menjadi misdinar dan apa yang harus diketahui oleh seorang misdinar.  Tetapi karena tugasku adalah mendampingi dan karena ditunjuknya di hadapan banyak orang, akhirnya dengan setengah terpaksa aku mengangguk mau.

Tapi semangat saja ternyata tidak cukup.  Penugasan untuk menjadi pendamping ini membuatku bingung karena ternyata, katanya, romo paroki sudah menunjuk sendiri pembina misdinar, yang notabene adalah seorang biarawati.  Sie Liturgi paroki terus berusaha meyakinkan dan mengatakan bahwa tugasku adalah membantu suster dalam mendampingi anak-anak misdinar.  Dia menyuruhku datang saja pada saat pertemuan.  Dimintanya aku berkoordinasi dengan suster tersebut.  Meskipun masih ragu dan bimbang, aku mencoba datang.

Sayang seribu sayang, kehadiranku hanya dianggap 'obat nyamuk'.  Jangankan berkoordinasi, bertegur sapa denganku saja suster tersebut kelihatan enggan.  Jangankan bertegur sapa, memberi salam saja ia tidak pernah.  Nampak sekali kalau kehadiranku sebenarnya tidak diperlukan.  Aku jadi bingung lagi, benar nggak sih keputusanku untuk mengatakan iya?  Sebenarnya untuk apa lagi Sie Liturgi memerlukan seorang pendamping misdinar jika sudah ada seorang suster, yang notabene lebih berpengalaman, untuk mendampingi dan membina anak-anak?

Aku tidak tahu ada masalah apa antara Suster tersebut dan Sie Liturgi paroki.  Tetapi kesannya aku ikut menjadi pihak yang harus dibenci dan dihindari.  Beberapa kali hadir dalam pertemuan misdinar, nampak sekali bahwa sebenarnya satu pendamping lagi tidak diperlukan.  Aku tetap menjadi orang asing, yang tidak tahu sama sekali apa yang harus dilakukan.

Jadi, secara sepihak aku menyatakan mundur.  Menurutku, kegiatan apapun, jika teman seperjuangan tidak senada seirama dengan kita, pada akhirnya hanya akan menimbulkan luka.  Adalah lebih baik aku mundur sekarang, daripada harus pura-pura bersikap ramah.  Bagiku, seorang suster haruslah tetap menjadi seorang suster apa pun profesinya.  Ia harus mampu menunjukkan rasa cinta dan penghormatan kepada orang lain.  Pada dasarnya, menjadi seorang biarawati adalah menjadi seorang abdi.  Ia harus bisa menampilkan Kristus dalam hidupnya.  Jika seorang biarawan atau biarawati masih terpaku pada hidup dan dirinya sendiri, sebaiknya ia mulai berkaca, merenung dan mulai melepas jubahnya.  

Tuhan, Sang Pengasih, maafkan saya.  Saya tidak sanggup menjadi umat yang hanya bisa bilang iya-iya saja.  Jika perlu membantah, saya akan membantah, karena tidak sepatutnya Engkau diwartakan dengan cara demikian.  Bagiku, mewartakanMu adalah mewartakan kasih, bukan dengan bertingkah congkak dan merasa hebat sendiri.  Saya selalu bermimpi dan akan terus bermimpi, bahwa mencintaiMu haruslah dengan tindakan nyata dan bukan hanya dengan omong kosong belaka.

Maafkan saya, yang menyerah sebelum waktunya.

Komuni I 2017 - Pertemuan Pertama

19 Maret 2017
Hari ini adalah seleksi pembinaan komuni pertama di paroki untuk tahun 2017.  Jika tahun-tahun sebelumnya anak-anak dites dan diseleksi dengan bertele-tele, dibuat mabuk dengan berbagai macam modul yang harus dipelajari, maka tahun ini agaknya menjadi agak spesial sedikit.

Pembinaan untuk anak-anak hanya akan dilakukan sebanyak 10 kali pertemuan, ditambah dengan pertemuan untuk orangtua hanya 5 kali saja.  Tes dilakukan berdasarkan tingkat usia dan sekolah.  Semua serba dipermudah, supaya anak-anak tidak merasa takut dan tertekan.  Wajar saja jika peserta yang terdaftar tahun ini sungguh sangat luar biasa: banyak banget dah!. 

Tahun ini aku mendaftarkan Altar dan Lunar bersama-sama.  Yang satu kelas 5 SD dan yang satunya kelas 3 SD, meskipun bodi sudah sebesar anak SMP.  Maksudnya, biar sekali jalan dalam mengikuti pembinaan dan sekaligus biar ada teman nantinya.  Kalau menunggu tahun depan, si bontot ini ini akan lebih malas lagi karena merasa tidak ada temannya.

Tapi....ya Tuhan.....diam-diam si Lunar mogok.  Pada saat kami mengikuti pertemuan orangtua, dianya malah nongkrong di sudut kantin gereja dan menolak untuk mengikuti seleksi.  Jadi, terpaksalah emaknya ini turun tangan.  

"Kenapa nggak masuk, dek? Nanti gurunya mencari!"

"Nggak mau!  Lunar nggak mau masuk dan ikut seleksi!"

"Lho, kenapa?  Kan sudah daftar?"

"Aku takut lupa, Bun.  Memang sih aku sudah hafal doa-doa dasar, tapi kalau sudah maju nanti, aku pasti lupa!"  dia kekeuh tidak mau masuk.

"Ya sudah.  Ayo bunda temani.  Pasti nanti jadi berani!  Tesnya kan sekarang gampang-gampang.  Ngapain takut?" aku mencoba menenangkan.

Setelah ba bi bu dengan berbagai macam argumen, akhirnya dia pun beranjak dari kursinya.  Kutemani dia berkumpul dengan teman-teman sebaya yang juga mau ikut tes komuni pertama.  Beberapa di antara mereka menyambutnya dengan ramah.  Dan, dia pun segera lupa dengan takut dan groginya, serta mulai melupakan emaknya.

Daripada bengong, aku menawarkan diri membantu seleksi. Guru pembina hanya beberapa, sedangkan yang dites luar biasa.  Setelah dibriefing sejenak oleh sang ketua, akhirnya dari hanya sekedar mengantar, aku pun akhirnya 'kecemplung' juga.  Lumayan, dapat menyeleksi 3 anak setingkat SD kelas 6, 1 SMA, 2 SMP dan 1 dewasa.  

Rata-rata yang mendapat giliran seleksi denganku sudah hafal dengan doa dasar.  Hanya saja, mereka masih 'bolong-bolong' pergi ke gereja.  Padahal, kaitan utama menerima komuni adalah ikut misa di gereja.  Jadi, meskipun hafal doa-doa, tetapi jarang-jarang ikut misa, bagiku tidak ada artinya.  

Aku memandang ke sekeliling. Menurutku, sekuat apapun pembina berusaha, jika tidak ada dukungan orangtua, anak-anak ini akan tetap menjadi anak-anak yang hanya paham teori saja.  Bagaimana mungkin mengharapkan anak-anak ini paham dan mengerti bagaimana menjadi seorang Katolik yang baik, jika mereka tidak pernah melihat contohnya dalam hidup sehari-hari.  Orangtua yang tidak hafal doa dan tidak pernah berdoa di rumah, orangtua yang tidak pernah mengikuti misa, orangtua yang hanya pandai memerintah dan tidak tahu caranya bagaimana menjadi teladan bagi mereka, orangtua yang hanya pandai membentak dan memerintah tanpa tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh anak-anak mereka.

Ah, Yesus yang tanganMu tergantung satu di kayu salib, sementara yang satu mengarah padaku........

Yang utama dan terutama itu adalah belajar bagaiamana mencintaiMu.  Dengan belajar mencintai, semua akan dimudahkan.  Dengan berani mencintai, anak-anak ini akan menjadi anak-anak hebat yang mampu untuk mencintai nantinya.  Tapi jika orangtuanya tidak sanggup mencinta, bahkan mencintai anak-anaknya, bagaimana mereka akan mencintaiMu?  Jika mereka tidak bisa mencintaiMu, bagaimana mereka akan bisa mencintai sesama nantinya?

Ah, mbuhlah.....!

Beda Jaman Beda Kelakuan

18 Februari 2017
Para biarawati muda itu, terlihat begitu nyata.  Mereka berjalan cepat-cepat dengan kepala tegak dan wajah datar, seperti tanpa rasa.  Berpapasan dengan umat pun mereka terlihat enggan.  Banyak menjaga jarak, cenderung arogan.  Hanya bertegur sapa dengan mereka yang mereka kenal dan yang mau menyapa mereka terlebih dahulu.  Pemandangan itu memunculkan pertanyaan yang aneh, "apakah mereka betul-betul biarawati?"

Berbanding terbalik dengan para biarawati yang sudah tua.  Mereka tanpa segan menyapa dan memberi salam jika bertemu dan berpapas dengan umat.  Membagi senyuman ramah tanpa peduli mereka kenal atau tidak.  Para suster tua ini, sejujurnya mengingatkanku tentang aliran cinta, yang seharusnya nyata dan terlihat di dalam Gereja.  Tapi, bukankah yang namanya abdi Allah itu tidak perlu ada pembedaan antara yang tua dan yang muda?  Bukankah mewartakan Kristus itu tidak perlu diembel-embeli kau tua atau aku muda?

Itulah pemandangan yang sering kami lihat di parokiku.  Aku dan suami sering tersenyum geli sendiri.  Lucu saja kesannya.  Bagaimanapun juga, kami berdua pernah mengalami betapa membahagiakannya saat-saat bertemu dengan para abdi gereja pada waktu dahulu kala.  Jadi ketika melihat kejadian yang berbanding terbalik dari yang 'seharusnya', kami hanya bisa saling memandang, untuk kemudian cekikikan spontan tanpa jedah.

Ah,  betapa aku ingat para biarawan biarawati di kampungku dulu.  Betapa indahnya memandang mereka.  Betapa rindunya aku senantiasa.  Memandang wajah mereka aku seolah melihat Kristus.  Tidak peduli tua atau muda, mereka sungguh berlomba memancarkan cahaya Kristus.  Tidaklah heran betapa aku dahulu seperti telihat lebih mencintai gereja daripada rumah.  Betapa hari-hariku banyak kuhabiskan bersama mereka.

Terkadang aku berpikir, apakah salah berpikir sedikit aneh?  Apakah salah menertawakan sesuatu yang terasa aneh?  Memang sih tidak semua biarawan atau biarawati bersikap seperti itu.  Tapi di parokiku sekarang ya memang seperti itu.  Jadi what's wrong gitu loh......?!!  Mungkin pemikiranku saja yang perlu dibenahi.  Anggap saja memang jamannya sudah beda.  Beda jaman beda kelakuan....hehehe. 

Hanya saja.....ini hanya saja loh ya.....seandainya para biarawati muda itu sedikit lebih bercahaya dan memancarkan aura cinta, mungkin pandanganku atas mereka juga sedikit berbeda.   Seharusnya mereka mengambil spesial kursus "How to smile nicely".  Jadi, senyuman itu bisa spontan terlihat pada saat menyapa umat, tanpa perlu disetel atau diatur.

Ah, bahagianya diriku yang tidak perlu berlatih dalam hal memberi senyum.......ahaiii......!