Rabu Abu 2010

17 Februari 2010
Seorang teman menjawilku pagi ini : "Misa Rabu Abu jam berapa?"

"Jam tujuh malem!" aku menjawab.  "Bisa jadi sudah dimulai tadi pagi di gereja lain," aku menambahkan (maksudnya bukan di parokiku).

Pertanyaan sepele itu mengingatkan aku bahwa hari ini merupakan hari yang sangat penting bagi kami umat Katolik.  Hari ini masa puasa dan pantang dimulai.  Seluruh gereja Katolik mengadakan upacara Rabu Abu sebagai pertanda bahwa masa Prapaska sudah berjalan.  Ditandai dengan pemberian abu di dahi yang menunjukkan bahwa inilah saat pertobatan itu, di mana umat diajak untuk merenungkan sengsara dan wafat Tuhan dalam masa 40 hari ke depan.

Yl 2:12-18; 2Kor 5:20-6.2; Mat 6:1-6.16-18.

 “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik”

“Semua orang beriman kristiani wajib menurut cara masing-masing melakukan tobat demi hukum ilahi; akan tetapi agar mereka semua bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama, ditentukan hari-hari tobat, di mana orang-orang beriman kristiani secara khusus meluangkan waktu untuk berdoa, menjalankan ibadat dan karya amal kasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang” (KHK kan 1249).

Rabu Abu merupakan permulaan masa pantang dan puasa bagi umat Katolik.  Dengan berpantang dan berpuasa kita diajak untuk masuk ke dalam misteri penyelamatan Allah yang kita imani.  Untuk itu ada aturan-aturan di dalam gereja yang mesti ditaati oleh umat berkaitan dengan pantang dan puasa itu sendiri.

Saya bersyukur karena GK tidak terlalu "ketat" dalam menerapkan peraturan pantang dan puasa.  Tidak terlalu ketat maksudnya bahwa umat diberikan kehendak bebas untuk melakukan pantang dan puasa  sesuai dengan  kemauan dan kemampuan masing-masing.  Tidak ada unsur paksaan.  Tidak ada tanda-tanda ancam-mengancam.  Semua dikembalikan kepada umat yang bersangkutan untuk melaksanakan mana yang mau dan mampu dilakukannya.

Intinya bukan kepada berpuasa dan berpantang dalam arti tidak makan dan tidak minum saja, tetapi lebih ditekankan kepada pertobatan secara pribadi dengan  memperbanyak doa-doa, amal kasih, menyangkal diri dan mendewasakan hidup rohani.  Itu sebabnya dalam masa 40 hari hanya pada hari-hari tertentu saja kita diwajibkan untuk berpantang dan berpuasa.

PANTANG



  • Diperuntukkan bagi umat yang sudah berumur sampai 14 tahun, dalam arti bagi mereka yang tahu maksud dan tujuan dari pantang itu sendiri.

  • Mengurangi atau tidak melakukan sama sekali hal-hal/ sesuatu yang  dianggap sebagai kesenangan pribadi dan menjadi "candu" dalam hidup sehari-hari, contoh : pantang merokok, pantang daging, pantang garam, pantang jajan, pantang ke mall, dsb.

  •  Diwajibkan pada hari Rabu Abu & Jumat Agung ( boleh juga dilakukan setiap hari Jumat - tentatif sepanjang masa prapaska 40 hari jika mau).

  • Meningkatkan doa-doa, karya amal dan derma.

PUASA
  • Diwajibkan bagi umat yang sudah berusia 14 tahun sampai dengan usia 60-an.
  • Hanya boleh makan kenyang satu kali saja dalam sehari.
  • Mengurangi/ tidak melakukan sama sekali hal-hal/ sesuatu yang merupakan kesenangan pribadi (pantang).
  • Diwajibkan pada hari Rabu Abu & Jumat Agung ( boleh juga dilakukan setiap hari Jumat - tentatif sepanjang masa prapaska 40 hari jika mau)
  • Meningkatkan doa-doa, karya amal dan derma.
Kalau melihat perikop bacaan KS di atas bolehlah kuterjemahkan sebagai berikut :


  • Sebenarnya puasa dan pantang di GK adalah sesuatu yang tidak terlalu berat secara jasmani, tetapi berat dari segi rohani.  Kita di"tantang" untuk bisa meneladan sang Kristus  sendiri dalam sikap doa, tapa dan mati raga.

  • Tidak ada sanksi bagi yang tidak melakukan meskipun tertulis WAJIB.  Semua dikembalikan kepada kehendak bebas masing-masing orang.

  • Dalam masa 40 hari tidak full setiap hari kita diwajibkan untuk berpuasa dan berpantang (hanya pada Rabu Abu & Jumat Agung).

  • Boleh menentukan sendiri (secara jujur) keterikatan duniawi yang seharusnya dikurangi atau bahkan dihilangkan.

  • Tidak perlu dipamer-pamerkan kepada orang lain bahwa kita berpuasa dan berpantang karena yang menilai ketulusan kita adalah Tuhan.

  • Tetap berkarya seperti biasa meskipun kita sedang berpuasa.

  • Lebih diutamakan untuk memperbanyak doa, dan melakukan perbuatan amal dan kasih terhadap sesama.

Selamat berpuasa dan bermati raga, GBU

0 komentar:

Posting Komentar