Unek-unek di Bulan April

22 April 2017
Ketika diminta untuk menjadi pendamping misdinar, aku sebenarnya ragu.  Bisa atau tidak ya?  Selain takut tidak ada waktu, aku juga sudah lupa bagaimana rasanya menjadi misdinar dan apa yang harus diketahui oleh seorang misdinar.  Tetapi karena tugasku adalah mendampingi dan karena ditunjuknya di hadapan banyak orang, akhirnya dengan setengah terpaksa aku mengangguk mau.

Tapi semangat saja ternyata tidak cukup.  Penugasan untuk menjadi pendamping ini membuatku bingung karena ternyata, katanya, romo paroki sudah menunjuk sendiri pembina misdinar, yang notabene adalah seorang biarawati.  Sie Liturgi paroki terus berusaha meyakinkan dan mengatakan bahwa tugasku adalah membantu suster dalam mendampingi anak-anak misdinar.  Dia menyuruhku datang saja pada saat pertemuan.  Dimintanya aku berkoordinasi dengan suster tersebut.  Meskipun masih ragu dan bimbang, aku mencoba datang.

Sayang seribu sayang, kehadiranku hanya dianggap 'obat nyamuk'.  Jangankan berkoordinasi, bertegur sapa denganku saja suster tersebut kelihatan enggan.  Jangankan bertegur sapa, memberi salam saja ia tidak pernah.  Nampak sekali kalau kehadiranku sebenarnya tidak diperlukan.  Aku jadi bingung lagi, benar nggak sih keputusanku untuk mengatakan iya?  Sebenarnya untuk apa lagi Sie Liturgi memerlukan seorang pendamping misdinar jika sudah ada seorang suster, yang notabene lebih berpengalaman, untuk mendampingi dan membina anak-anak?

Aku tidak tahu ada masalah apa antara Suster tersebut dan Sie Liturgi paroki.  Tetapi kesannya aku ikut menjadi pihak yang harus dibenci dan dihindari.  Beberapa kali hadir dalam pertemuan misdinar, nampak sekali bahwa sebenarnya satu pendamping lagi tidak diperlukan.  Aku tetap menjadi orang asing, yang tidak tahu sama sekali apa yang harus dilakukan.

Jadi, secara sepihak aku menyatakan mundur.  Menurutku, kegiatan apapun, jika teman seperjuangan tidak senada seirama dengan kita, pada akhirnya hanya akan menimbulkan luka.  Adalah lebih baik aku mundur sekarang, daripada harus pura-pura bersikap ramah.  Bagiku, seorang suster haruslah tetap menjadi seorang suster apa pun profesinya.  Ia harus mampu menunjukkan rasa cinta dan penghormatan kepada orang lain.  Pada dasarnya, menjadi seorang biarawati adalah menjadi seorang abdi.  Ia harus bisa menampilkan Kristus dalam hidupnya.  Jika seorang biarawan atau biarawati masih terpaku pada hidup dan dirinya sendiri, sebaiknya ia mulai berkaca, merenung dan mulai melepas jubahnya.  

Tuhan, Sang Pengasih, maafkan saya.  Saya tidak sanggup menjadi umat yang hanya bisa bilang iya-iya saja.  Jika perlu membantah, saya akan membantah, karena tidak sepatutnya Engkau diwartakan dengan cara demikian.  Bagiku, mewartakanMu adalah mewartakan kasih, bukan dengan bertingkah congkak dan merasa hebat sendiri.  Saya selalu bermimpi dan akan terus bermimpi, bahwa mencintaiMu haruslah dengan tindakan nyata dan bukan hanya dengan omong kosong belaka.

Maafkan saya, yang menyerah sebelum waktunya.

0 komentar:

Posting Komentar