Sandal Yesus

23 April 2013
Tiga minggu yang lalu, pada saat hari Minggu Paska, aku mendapat kesempatan untuk duduk paling depan, tepat di depan altar.  Hari itu komunitasku dapat tugas koor bersama beberapa komunitas lainnya. Background altar bergambar Bunda Maria dan kanak2 Yesus dalam ukuran raksasa otomatis memancing arah pandangan mata untuk selalu menatap ke depan. 

Saat di depan altar dan memandang ikon Bunda Maria yang sedang menggendong kanak2 Yesus, aku baru sadar kalau salah satu sandal yang dipakai Yesus hampir lepas. Aku bahkan membayangkan bahwa kanak-kanak Yesus sedang menggerak-gerakkan kaki mungilNya untuk menahan supaya sandal tidak jatuh ke bawah.  Sementara Sang Bunda tetap tersenyum dengan wajah lembutNya, dan sang anak tertawa lebar dalam kegembiraan masa kanak-kanakNya.

Gambar Maria menggendong Yesus mungkin adalah gambar yang sudah biasa dan bisa jadi mudah dijumpai di mana-mana.  Tetapi kepenuhan hati dan perasaan ikut "tersenyum" bersama mereka belum tentu bisa kurasakan kapan saja jika aku pergi ke gereja.  Jadi, pada hari Minggu Paska, saat orang tenggelam dalam epiforia Paska, aku tenggelam dalam pemandangan tak lazim, tersenyum memandang kanak-kanak Yesus yang sandalnya hampir lepas dalam gendongan Bunda Maria.

Aku teringat anak2 di rumah.  Para malaikatku yang sungguh nyata : Pilar, Altar dan Lunar.  Keajaiban dalam hidup yang benar-benar ada.  Para malaikat yang telah dikirimkan dan dititipkan Tuhan untuk kurawat dan kuasuh.  Para malaikat yang sering membuat tensiku naik sekaligus menjadi penyembuh saat derita hidup datang mendekat.  Para malaikat yang membuat hari-hariku selalu dipenuhi dengan semangat baru.

Memandang kanak-kanak Yesus dan sandal jepitNya yang hampir copot, seakan membawa pencerahan baru bagiku, bahwa keluarga adalah segala-galanya.  Mereka lebih bernilai daripada emas dan permata.  Mereka lebih berharga dari kemewahan apapun yang ada di dunia. 

Yesus dan sandal jepitNya yang hampir copot, mengajakku untuk kembali berkaca diri, belajar untuk menjadi orangtua yang lebih baik lagi.....lagi.....dan lagi......!

0 komentar:

Posting Komentar