Elegi Pagi Hari

05 Februari 2017
Pagi tadi jam 6.30WIB di gereja.  

Dua ekor burung gereja bercengkerama di atas kepala Yesus yang tersalib.  Agak kurang ajar memang.  Tapi bagiku itu sangat indah.  Bayangkan saja, dua ekor burung gereja itu dengan santainya menyela setiap tahapan perayaan ekaristi dengan kicauan-kicauannya.  Seolah-olah mereka adalah si empunya rumah. Dan tiba2 aku membayangkan, Yesus turun dari salib dan ikut bercengkerama bersama dengan kedua burung gereja itu.

Dalam doa aku mengulum senyum.  Betapa menemuiMu setiap pagi itu adalah sebuah keindahan ya Tuhan.  Sebuah relasi yang dalam antara Sang Pencipta dan ciptaanNya.  Sebuah ikatan tak terputuskan antara anak dan Bapanya.  Dalam hening pagi, semilir angin dan kehangatan jiwa, terasa betul bahwa Engkau begitu dekat, begitu nyata.

Ah, Tuhan.  Seringkali ketika aku mulai hilang percaya, Engkau berbicara dengan banyak cara.  Ketika rasa cinta mulai memudar, Engkau menyapa lewat banyaknya harapan.  Terkadang aku ingin menghilang dari peredaran.  Bahkan terkadang, kurindukan tidur panjang tak berkesudahan.  Tapi Engkau selalu ada.  Engkau yang selalu mengangkatku dari kejatuhan dan menemani langkahku dalam diam.

Dua ekor burung gereja yang kujumpa pagi ini di gereja.  Membuat tatapanku terpaku pada wajah Yesus yang tersalib. Menyadarkanku tentang banyak kebaikan dan cinta yang kudapatkan dalam kehidupan.  Bahwa hidup hari ini adalah sebuah berkat.  Bahwa hidup harus dijalani apa adanya.  Selagi masih menghirup nafas, tak ada yang perlu disesali.  Semua harus dihadapi dengan gagah berani.

Pagi hari dan mungkin pagi esok hari, bisa jadi punya cerita yang berbeda.  Jadi, tak perlu terlalu letih memikirkan segalanya.  Mulai lagi menjalani hari dengan kepala tegak, senyum merekah dan semangat pantang mundur selagi masih berumur.

0 komentar:

Posting Komentar